Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan signifikan pada penutupan perdagangan Senin (18/5). Merujuk data yang dikutip dari Detik Finance, indeks saham domestik merosot 1,85 persen ke level 6.599,24 akibat maraknya aksi jual investor asing serta pelemahan di seluruh sektor.
Koreksi ini dipicu oleh aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp 460,34 miliar di pasar reguler dan menembus Rp 463,99 miliar di seluruh pasar. Sektor transportasi menjadi kontributor penurunan terdalam setelah merosot hingga 6,20 persen.
Beberapa saham yang menjadi beban utama indeks adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk yang anjlok 14,98 persen dan PT Chandra Asri Pacific Tbk yang melemah 14,88 persen. Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk juga turut terkoreksi sebesar 1,92 persen.
Meski demikian, penurunan indeks tertahan oleh penguatan sejumlah emiten besar. Saham PT Bayan Resources Tbk menguat 6,25 persen, PT Astra International Tbk bertambah 4,35 persen, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk naik 4,05 persen.
Sentimen global turut memberikan pengaruh setelah bursa saham Amerika Serikat bergerak bervariasi. Indeks Dow Jones tumbuh 0,32 persen ke level 49.686, namun S&P 500 turun tipis 0,07 persen ke 7.403 dan Nasdaq melemah 0,51 persen ke posisi 26.090.
Kondisi pasar kian dinamis seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp 17.655 per dolar AS. Situasi ini memicu proyeksi pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dari 4,75 persen menjadi 5,00 persen demi menjaga stabilitas moneter.
Di tengah volatilitas pasar, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 23,59 persen secara tahunan menjadi Rp 17,71 triliun pada kuartal I-2026. Sektor peternakan komersial menjadi motor utama dengan sumbangan Rp 7,04 triliun.
Kenaikan pendapatan ini mendongkrak laba bersih JPFA secara signifikan menjadi Rp 1,94 triliun dari periode sebelumnya yang sebesar Rp 750 miliar. Laba per saham dasar juga terkerek naik menjadi Rp 156, sementara harga saham bergerak di rentang Rp 2.490 hingga Rp 2.640.
Sementara itu, PT Equity Development Investment Tbk (GSMF) tengah merancang aksi korporasi melalui skema private placement. Perseroan berencana menerbitkan maksimal 1,42 miliar saham Seri C atau setara 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Equity Global International Ltd. selaku pemegang saham utama bakal menyuntik modal tunai Rp 150 miliar, di mana Rp 60,13 miliar telah diterima akhir Desember 2025. Sisa dana akan direalisasikan usai mengantongi persetujuan RUPSLB pada 25 Juni, yang berpotensi meningkatkan kepemilikan saham mereka menjadi 71,17 persen.
Aksi korporasi lain datang dari PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) yang memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 senilai Rp 351 per saham. Total pembayaran mencapai Rp 1,39 triliun atau setara 57,94 persen dari laba bersih entitas induk yang tercatat Rp 2,40 triliun.
Meskipun laba bersih CITA turun tipis dari Rp 2,49 triliun pada 2024, pendapatan bersih mereka sepanjang 2025 naik 12,58 persen menjadi Rp 2,69 triliun. Pada penutupan 18 Mei, saham CITA berada di level Rp 3.800 per saham dengan indikasi dividend yield 9,24 persen, di mana cum dividen pasar reguler ditetapkan 22 Mei dan pembayaran pada 12 Juni.