Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (18/5/2026). Dikutip dari Investor Daily, indeks sebelumnya kembali ditutup merosot sebesar 1,98% menuju posisi 6.723, disertai aksi jual bersih oleh investor asing yang mencapai Rp 1,35 triliun di pasar reguler.
Sentimen negatif dipicu oleh dikeluarkannya sejumlah saham dari MSCI Global Standards Index serta MSCI Global Small Cap Index dalam pengumuman review kuartalan Mei 2026. Selain itu, kondisi diperparah oleh posisi nilai tukar rupiah yang menyentuh level terendah dalam sejarah pada angka Rp 17.600.
ÔÇ£Saat ini, kami masih memproyeksikan IHSG akan bergerak tertekan setelah level support penting sebelumnya di 6.870-7.020 tertembus dan membentuk lower low baru,ÔÇØ tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam ulasan, Senin (18/5/2026).
Pihak broker efek tersebut menjelaskan bahwa target penurunan indeks mengarah pada fibo extension di kisaran 6.660 hingga 6.532. Pelemahnya nilai tukar rupiah menjadi elemen krusial yang berisiko membuat aliran modal asing keluar semakin masif.
Tekanan terhadap pasar domestik juga sejalan dengan pelemahan indeks di bursa Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones Industrial Average merosot 1,07% ke level 49.526,1, S&P 500 melemah 1,24% ke posisi 7.408,5, dan Nasdaq Composite terpangkas 1,54% menjadi 26.225,1.
Menghadapi kondisi pasar yang bearish, BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi beberapa saham pilihan untuk aktivitas trading pada Senin (18/5/2026), antara lain GGRM, TINS, dan SMIL.