Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sukses mencatatkan rebound signifikan pada akhir pekan. Dilansir dari Investortrust, indeks naik sebesar 67,1 poin atau 1,10% hingga mendarat di level 6.162,04 pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026).
Performa ini membalikkan situasi dari awal transaksi pada hari yang sama, ketika indeks sempat terpuruk hingga menyentuh posisi 5.966. Kebangkitan indeks utama ini didorong oleh penguatan di sebagian besar sektor saham.
Sektor material dasar memimpin penguatan dengan kenaikan sebesar 6,85%, diikuti sektor energi yang melesat 4,84%. Sektor konsumer primer juga tumbuh 2,58%, sedangkan sektor industri dan infrastruktur masing-masing menguat 2,32% dan 1,53%. Di sisi lain, pelemahan justru membayangi sektor keuangan.
Sejumlah saham emiten yang memiliki afiliasi dengan Boy Thohir turut menjadi motor penggerak indeks, termasuk EMAS, MDKA, AADI, ADRO, dan MBMA. Selain itu, apresiasi harga saham juga dibukukan oleh INCO, RATU, TINS, dan BRPT, sementara TPIA, DSSA, dan BREN tampil sebagai penahan laju kenaikan.
Beberapa saham mencatatkan lonjakan harga tertinggi hingga terkena penolakan otomatis atas. Saham MDKA melonjak 24,77% menjadi Rp 2.720, CTBN melejit 25% ke Rp 5.750, PBSA meningkat 25% menuju Rp 850, EMAS menguat 19,67% menjadi Rp 7.300, dan ENRG naik 22,13% ke posisi Rp 1.490.
Satu hari sebelumnya, pasar modal Indonesia mengalami tekanan berat setelah IHSG merosot tajam 223,56 poin atau 3,54% ke level 6.094. Penurunan tersebut menggenapi akumulasi pelemahan indeks yang mencapai 11% dalam kurun waktu lima hari perdagangan terakhir, disertai aksi jual bersih oleh investor asing senilai Rp 508 miliar.
Koreksi mendalam pada hari sebelumnya dipicu oleh respons pasar terhadap penilaian S&P Global Ratings terkait rencana pembatasan ekspor. Lembaga pemeringkat tersebut menilai kebijakan itu berisiko menekan performa ekspor, menggerus pendapatan negara, serta memperbesar risiko neraca pembayaran, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas makroekonomi domestik.
Saat indeks tertekan pada hari sebelumnya, sektor energi merosot 6,91% dan material dasar turun 6,53%. Sektor konsumer primer melemah 6,05%, infrastruktur terkoreksi 5,58%, industri terpangkas 5,37%, serta sektor transportasi melemah 4,92%.
Kondisi koreksi beruntun tersebut juga menyeret jatuh saham-saham emiten grup konglomerasi besar. Penurunan paling drastis dialami oleh kelompok usaha Prajogo Pangestu yang dipimpin oleh koreksi saham TPIA hingga menyentuh batas bawah, diikuti oleh pelemahan saham milik grup Sinarmas, Boy Thohir, hingga Happy Hapsoro.