IHSG Bursa Efek Indonesia Melemah Tujuh Persen dalam Sepekan

IHSG Bursa Efek Indonesia Melemah Tujuh Persen dalam Sepekan
Foto: Ilustrasi IHSG Bursa Efek Indonesia Melemah Tujuh Persen dalam Sepekan.

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia terkoreksi hampir 7 persen dalam sepekan hingga Jumat (24/4/2026), dari level 7.663 di awal pekan menjadi 7.129 pada penutupan perdagangan akibat pembekuan rebalancing indeks saham Indonesia oleh MSCI.

Dilansir dari Investortrust, penurunan tajam ini dipicu oleh keputusan Morgan Stanley Capital International atau MSCI yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia periode Mei 2026. Penundaan tersebut mencakup penambahan Foreign Inclusion Factors serta perubahan klasifikasi sejumlah saham domestik.

Pihak MSCI menyatakan bahwa langkah pembekuan dilakukan untuk mengevaluasi konsistensi serta efektivitas kebijakan baru otoritas pasar modal Indonesia. Evaluasi tersebut berfokus pada transparansi kepemilikan saham dan rencana kenaikan batas minimum free float menjadi 15 persen.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menilai, tekanan pasar saat ini perlu dilihat dalam konteks global yang masih diliputi oleh ketidakpastian.

"Pelemahan rupiah saat ini lebih mencerminkan kombinasi sentimen risk-off global dan meningkatnya risk premium domestik, bukan disebabkan oleh krisis kebijakan yang ekstrem," ujar Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia secara tertulis, Jumat (24/4/2026).

Nilai tukar rupiah sendiri ditutup di level Rp17.278 per dolar AS pada 23 April 2026, yang menunjukkan pelemahan sekitar 3,5 persen sejak awal tahun. Walau demikian, performa mata uang Indonesia tersebut dinilai masih relatif lebih baik jika dibandingkan dengan rupee India dan lira Turki.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan bersama BEI dan KSEI menunjukkan progres reformasi dengan menyelesaikan empat dari delapan agenda transparansi pasar modal. Langkah ini meliputi publikasi daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, pengungkapan kepemilikan saham di atas 1 persen secara bulanan, perluasan klasifikasi investor, dan penerapan aturan minimum free float 15 persen.

Menurut Rully, langkah reformasi transparansi yang telah dijalankan oleh otoritas pasar modal tersebut menjadi sinyal yang positif bagi para pelaku pasar domestik.

"Pasar kini akan mencermati sejauh mana konsistensi reformasi dapat dipertahankan dan bagaimana MSCI menilai efektivitas kebijakan yang telah diterapkan," ujar Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

IHSG tercatat sempat menguat sekitar 8 persen sejak pengumuman reformasi pada 2 April 2026 meskipun volatilitas pasar modal tetap tinggi. Fokus investor selanjutnya tertuju pada MSCI Index Review pada 12 Mei 2026 serta hasil Market Accessibility Review pada Juni 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi