Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok sebesar 3,87 persen ke level tertentu pada Senin (18/5) pukul 10.03 WIB akibat meningkatnya tekanan sentimen global. Penurunan tajam ini dipicu oleh ketegangan geopolitik internasional serta ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia.
Kondisi pasar modal domestik langsung merespons situasi eksternal yang memburuk sejak pembukaan perdagangan awal pekan. Data pergerakan menunjukkan indeks terus merosot setelah sebelumnya sempat dibuka melemah 1,40 persen ke level 6.628,97 pada pukul 09.40 WIB.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubreto menjelaskan bahwa aksi jual masif di pasar dipicu oleh memanasnya konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Konflik tersebut menahan harga minyak Brent di kisaran USD110 per barel, sehingga memunculkan kekhawatiran inflasi struktural.
"Data inflasi AS yang dirilis berturut-turut mengonfirmasi tekanan harga, mendorong ekspektasi pasar bergeser dari skenario pelonggaran menuju kemungkinan suku bunga global lebih tinggi untuk lebih lama," ujar Rully Arya Wisnubreto.
Menurut analisisnya, pergeseran ekspektasi tersebut memicu penataan ulang harga (repricing) di pasar keuangan global yang berdampak langsung terhadap negara berkembang seperti Indonesia. Risiko aliran modal asing yang keluar (capital outflow) dari pasar saham dan obligasi ikut meningkat, menekan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta melemahkan nilai tukar rupiah.
"Serta, membebani kinerja IHSG pada awal pekan ini," ucap Rully Arya Wisnubreto.
Gejolak di pasar domestik ini juga tidak lepas dari situasi pasar obligasi global pada Jumat (15/5), di mana imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke 4,59 persen dan tenor 2 tahun naik ke 4,07 persen. Kenaikan yield obligasi juga melanda negara maju lain seperti Jepang dan Inggris, yang disertai penguatan indeks dolar AS (DXY) ke level 99,28 akibat perpindahan dana ke aset aman.