Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan terus mengalami tekanan pada sesi perdagangan Senin (4/5/2026). Dilansir dari Money, proyeksi pelemahan ini mengikuti pergerakan indeks yang sebelumnya sudah merosot sebesar 2,03 persen hingga menyentuh posisi 6.956,804 pada Kamis pekan lalu.
Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengamati bahwa pergerakan IHSG saat ini masih dipengaruhi oleh dominasi tekanan jual. Para investor dilaporkan tengah bersikap waspada sambil menantikan rilis data ekonomi domestik terbaru, khususnya angka inflasi serta laporan neraca perdagangan Indonesia.
ÔÇ£Untuk Senin kami perkirakan masih cenderung terkoreksi dengan area support di 6.838 dan resistance di 7.022. Kami mencermati IHSG masih rawan didominasi oleh tekanan jual, dimana akan ada rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia,ÔÇØ ujar Herditya Wicaksana, Analis teknikal MNC Sekuritas.
Herditya juga memberikan daftar saham yang layak diperhatikan pelaku pasar dalam kondisi ini. Beberapa di antaranya meliputi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan estimasi harga Rp 3.910-Rp 4.130, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) pada rentang Rp 4.190-Rp 4.260, serta PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) di area Rp 1.345-Rp 1.410.
Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memberikan pandangan mengenai titik krusial pergerakan indeks. Ia memetakan level dukungan atau support IHSG berada di kisaran 6.850-6.900, sementara target resistensi diproyeksikan tertahan pada rentang 7.050 hingga 7.300.
Potensi untuk mencapai level 7.100 dinilai masih terbuka jika sentimen global, terutama kondisi geopolitik Timur Tengah, tetap terjaga positif. Namun, penguatan nilai tukar dollar AS atau lonjakan harga minyak dunia berisiko menyeret indeks kembali menguji level di bawah 6.900.
ÔÇ£Secara historis, bulan Mei dikenal memiliki kecenderungan volatil dengan bias yang tidak selalu kuat, sejalan dengan fenomena ÔÇ£Sell in May and go awayÔÇØ yang sering menjadi acuan investor global,ÔÇØ ujar Hendra Wardana, Founder Republik Investor.
Dalam beberapa tahun terakhir, pergerakan indeks di bulan Mei cenderung bergerak menyamping atau sideways dengan pelemahan yang bersifat terbatas. Fenomena ini sering terjadi saat katalis positif dari dalam negeri tidak cukup kuat untuk mendorong kenaikan yang solid.
Meskipun tren kenaikan belum terlihat kokoh, peluang untuk terjadinya pembalikan harga jangka pendek atau rebound tetap tersedia. Hendra mencatat adanya pergeseran rotasi sektor saham, di mana sektor energi mulai mengalami normalisasi seiring turunnya harga minyak dunia.
Sebaliknya, sektor-sektor yang memiliki sensitivitas terhadap tingkat suku bunga dan inflasi justru berpeluang mendapatkan sentimen positif. Bidang usaha yang mencakup perbankan, konsumsi, dan properti diprediksi akan menjadi perhatian investor dalam rotasi aset kali ini.
Beberapa emiten spesifik juga direkomendasikan untuk dipantau, yakni PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dengan target Rp 1.810 dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada target Rp 268. Selain itu, terdapat PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dengan target Rp 2.730 serta PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) di level Rp 226.