Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi mengalami tekanan dan bergerak volatil dengan kecenderungan melemah terbatas menjelang periode libur panjang pada Mei 2026. Pergerakan indeks saham domestik saat ini dinilai sedang berada dalam fase penyesuaian setelah terjadi aksi jual besar-besaran pada saham-saham berkapitalisasi besar, seperti dilansir dari Money.
Kondisi pasar modal tersebut sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan domestik yang terjadi secara bersamaan, terutama terkait penataan ulang portofolio indeks global. Secara teknikal, pergerakan indeks kini tengah menguji level psikologis penting di angka 6.900.
Apabila tekanan jual dari investor asing terus berlanjut dan indeks gagal bertahan di atas level psikologis tersebut, penurunan lanjutan diproyeksikan menuju kisaran 6.600 hingga 6.700. Namun, koreksi mendalam ini berpotensi memicu pentalan teknis jika tekanan global menyusut dan nilai tukar rupiah bergerak stabil.
Faktor utama yang menekan indeks meliputi hengkangnya dana asing, depresiasi nilai tukar rupiah di atas Rp 17.500 per dollar AS, kecemasan perlambatan ekonomi global, serta ketidakpastian geopolitik. Kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat juga terus dipantau di tengah inflasi yang belum mereda.
Pelemahan harga komoditas dunia dan kekhawatiran dampak perang tarif antara Amerika Serikat dan China turut memperberat posisi saham emiten eksportir. Dari dalam negeri, pergerakan indeks menjadi lebih sensitif terhadap sentimen luar akibat minimnya pendorong positif dari domestik.
Proses penataan ulang indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Mei 2026 menjadi pemicu utama tekanan pasar dalam beberapa pekan terakhir. Penghapusan sejumlah saham seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT dari MSCI Global Standard memicu potensi penjualan pasif sisa mencapai Rp 18,5 triliun di akhir Mei.
ÔÇ£Pelemahan IHSG menjelang libur panjang mencerminkan kombinasi tekanan global dan domestik yang terjadi secara bersamaan. Dalam jangka pendek, pergerakan IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan sideways bearish, terutama karena pasar masih berada dalam fase penyesuaian pasca tekanan besar pada saham-saham berkapitalisasi jumbo akibat rebalancing MSCI Mei 2026,ÔÇØ ujar Hendra Wardana, Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor pada Minggu malam (17/5/2026).
Risiko lanjutan dari proses ini diperkirakan tetap membayangi pergerakan harga saham hingga tanggal efektif rebalancing pada 29 Mei 2026. Terbatasnya porsi saham publik yang beredar pada beberapa emiten tersebut berisiko meningkatkan volatilitas harga secara signifikan.
ÔÇ£Tekanan terbesar berasal dari mekanisme keluarnya dana pasif global yang wajib menyesuaikan portofolio mengikuti komposisi indeks MSCI. Akibatnya, saham-saham yang mengalami deletion menghadapi tekanan jual mekanikal yang sangat besar tanpa mempertimbangkan valuasi maupun fundamental jangka pendek,ÔÇØ paparnya Hendra Wardana, Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor.
Pelaku pasar disarankan menerapkan strategi defensif dan selektif dengan mengutamakan emiten berfundamental kokoh, arus kas operasional sehat, serta berutang rendah. Pembelian secara bertahap atau metode dollar cost averaging dinilai lebih aman sembari mempertahankan porsi kas yang memadai.
Sektor perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI dinilai menarik sebagai tujuan rotasi dana karena likuiditas dan bisnis domestiknya yang tangguh. Selain itu, sektor barang konsumen sekunder seperti Indofood, INDF, UNVR, dan KLBF juga layak dicermati karena memiliki arus kas kuat.
Saham sektor telekomunikasi lewat TLKM serta emiten terdiversifikasi seperti ASII dan UNTR juga dinilai potensial karena kondisi keuangan yang kuat. Pada sektor energi dan kesehatan, saham PGAS, MIKA, dan SIDO dapat menjadi pilihan akumulasi bertahap saat tekanan teknikal MSCI mulai mereda setelah akhir Mei.