IHSG Berpotensi Alami Tekanan Akibat Keputusan MSCI

IHSG Berpotensi Alami Tekanan Akibat Keputusan MSCI
Foto: Ilustrasi IHSG Berpotensi Alami Tekanan Akibat Keputusan MSCI.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai masih menghadapi tekanan akibat perkembangan terbaru dan potensi penyesuaian komposisi indeks global MSCI pada Selasa (21/4/2026), seiring tertahannya aliran dana asing.

Dilansir dari Investortrust, sentimen ini muncul karena tidak adanya perubahan komposisi indeks MSCI yang membuat potensi rebalancing investor pasif menjadi minim dan membatasi katalis eksternal bagi pasar domestik.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai situasi teknikal ini mulai tecermin pada pergerakan indeks saham domestik.

"Secara teknikal, tekanan tersebut mulai tercermin pada pergerakan IHSG. Indeks berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menutup area gap di level 7.527. Jika level ini tidak mampu bertahan, maka ruang koreksi masih terbuka menuju area gap berikutnya di kisaran 7.308," kata Hendra, Selasa (21/4/2026).

Penundaan momentum ini diperkirakan tidak mengubah arah jangka panjang karena reformasi pasar terus berjalan demi meningkatkan kualitas serta peluang masuknya dana asing ke depan.

Pandangan serupa mengenai pergerakan indeks pasca pengumuman dari MSCI juga disampaikan oleh pengamat pasar modal Elandry Pratama.

"Kebijakan MSCI sering kali memicu aksi jual, khususnya dari investor asing yang mengikuti indeks global, sehingga IHSG berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan sideways hingga melemah terbatas," ujarnya.

Elandry menambahkan bahwa arah pasar selanjutnya dipengaruhi oleh arus dana asing, respons regulator, serta kejelasan lanjutan MSCI, sementara peluang stabilisasi jangka menengah tetap terbuka jika kepercayaan investor pulih.

Penilaian lain disampaikan oleh Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, terkait jadwal rebalancing.

"Untuk pergerakan IHSG akan menguji support terlebih dulu di kisaran 7.500 lalu menguat dalam jangka pendek ke resisten di 7.770," kata Ahmad Faris.

Ahmad Faris menyatakan rebalancing pada Mei ini masih sesuai ekspektasi pasar sembari menanti penyesuaian metodologi baru yang akan diumumkan pada Juni mendatang.

Kondisi pasar saat ini juga diwarnai perhatian investor terhadap potensi penghapusan saham yang memiliki struktur kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

MSCI membuka peluang menghapus saham berkategori HSC dengan memanfaatkan data pengungkapan pemegang saham di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float.

Data BEI mencatat saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memiliki konsentrasi kepemilikan 97,31% dan anjlok 7,95% ke level 6.075 hingga pukul 10.28 WIB, sedangkan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan kepemilikan 95,76% anjlok 13,76% ke posisi 2.830.

Penurunan harga dan likuiditas akibat aksi jual dana pasif global ini dinilai Elandry hanya memberikan dampak jangka pendek, sementara jangka panjang tetap bergantung pada solidnya fundamental emiten.

Di sisi lain, reformasi transparansi oleh OJK dan BEI berpotensi memicu outflow dana pasif yang menjadikan MSCI sebagai acuan terhadap saham-saham HSC tersebut.

"Secara prospek bisnis, outflow ini tidak mengubah prospek bisnis material, namun memang harus dilakukan karena mandatory dari manajer investasi yang menggunakan indeks MSCI," ujarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi