Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan mengalami penyesuaian terhadap dinamika bursa saham global pada pembukaan perdagangan pekan depan setelah melewati masa libur panjang.
Kondisi pasar ekuitas di Asia sepanjang pekan ini bergerak variatif dengan tingkat volatilitas tinggi yang dipengaruhi sentimen kebijakan moneter serta geopolitik internasional.
Perkembangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi salah satu pemicu utama fluktuasi indeks di kawasan regional, seperti dilansir dari Investasi.
"Biasanya nanti pada pembukaan Senin akan ada catch-up terhadap pergerakan bursa global dan regional selama masa libur tersebut," kata Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas pada Jumat (15/5/2026).
Faktor geopolitik berupa hasil pertemuan tingkat tinggi antara pemimpin Amerika Serikat dan China turut membayangi arah pergerakan modal di Asia.
"Secara garis besar bursa ekuitas bergerak variatif dengan volatilitas yang cukup tinggi sepanjang pekan ini. Faktor global yang paling mempengaruhi dinamika market regional adalah hasil pertemuan tingkat tinggi antara Trump dengan Xi Jinping," ujarnya.
Ketidakpastian kebijakan tarif impor baru berisiko menekan laju pertumbuhan ekonomi global serta memengaruhi minat risiko dari para pelaku pasar.
"Para pelaku pasar juga mencermati dinamika harga minyak dunia dan rilis data tenaga kerja yang menunjukkan perlambatan, sehingga turut mempengaruhi minat risiko investor di kawasan Asia," imbuhnya.
Tingginya inflasi di negara-negara maju juga memaksa bank sentral untuk tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat dalam beberapa waktu ke depan.
"Para pelaku pasar mencermati keberlanjutan kebijakan pengetatan moneter The Fed, mengingat data inflasi masih tinggi dan cenderung fluktuatif. Ditambah lagi dinamika konflik di Timur Tengah yang turut mempengaruhi imported inflation," jelas dia.
Di tengah tekanan tersebut, pasar saham Jepang mencatatkan performa paling kuat dengan mencetak rekor tertinggi yang disokong oleh laporan keuangan emiten.
"Untuk kinerja bursa selama pekan ini, Jepang menjadi yang menonjol karena sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa, didorong oleh kinerja laporan keuangan emiten yang solid serta ekspektasi kebijakan Bank of Japan," kata Nafan.
Tekanan jual juga melanda pasar saham domestik secara signifikan sepanjang pekan ini, yang membuat posisi IHSG mengalami penurunan cukup tajam.
"Selama sepekan ini IHSG terkoreksi -3,53% dan masih didominasi oleh tekanan jual," ujar Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Sentimen negatif dalam negeri bertambah seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp 17.500 per dolar AS ditambah dengan hari perdagangan yang lebih pendek.
Pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026), mayoritas bursa di kawasan Asia mencatatkan pelemahan secara merata.
Sementara itu, IHSG pada perdagangan terakhir hari Rabu (13/5/2026) ditutup melemah 1,98 persen menuju level 6.723,32.
| Indeks Bursa | Perubahan Harian | Perubahan Mingguan | Level Penutupan |
|---|---|---|---|
| Nikkei 225 (Jepang) | turun 1,99% | melemah 2,84% | 61.409,29 |
| Topix (Jepang) | turun 0,39% | menguat 0,62% | 3.863,97 |
| SSE Composite Index (China) | turun 1,02% | melemah 1,57% | 4.135,39 |
| SZSE Component Index (China) | turun 1,17% | melemah 0,87% | 15.561,37 |
| CSI 300 Index (China) | turun 1,12% | melemah 0,87% | 4.859,59 |
| Hang Seng Index (Hong Kong) | turun 1,62% | melemah 1,32% | 25.962,73 |
| KOSPI (Korea Selatan) | turun 6,12% | melemah 3,63% | 7.493,18 |
| TAIEX (Taiwan) | turun 1,39% | melemah 1,30% | 4.117,36 |
| S&P/ASX 200 (Australia) | turun 0,11% | melemah 0,68% | 8.630,80 |
Pada pekan depan perhatian pasar akan tertuju pada rilis data inflasi produsen dan konsumen dari Amerika Serikat serta dinamika hubungan dagang dengan Uni Eropa.