IHSG Berpotensi Melemah Menuju Level Support 6.081

IHSG Berpotensi Melemah Menuju Level Support 6.081
Foto: Ilustrasi IHSG Berpotensi Melemah Menuju Level Support 6.081.

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia diprediksi bergerak cenderung melemah pada Jumat (29/5/2026). Analisis pasar menunjukkan indeks akan bergerak dalam rentang support level 6.081 serta resistance pada level 6.188.

Pelemahan indeks domestik ini diperkirakan terjadi di tengah kondisi mayoritas pasar saham Asia yang justru dibuka menguat pagi ini. Berdasarkan data yang dihimpun, indeks Nikkei 225 tercatat menguat sebesar 1.80 persen dan indeks Kospi bergerak naik 2.74 persen.

Laju indeks saham di dalam negeri juga akan dipengaruhi oleh pergerakan pasar saham Amerika Serikat, di mana bursa Wall Street ditutup mayoritas menguat. Sentimen positif global tersebut didorong oleh kesepakatan draf antara Amerika Serikat dan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.

Pihak Reliance Sekuritas memberikan proyeksi mengenai pergerakan indeks melalui riset pagi mereka, seperti dilansir dari Investortrust. Secara teknikal, posisi candle terakhir dari IHSG menunjukkan bentuk bearish yang berada di bawah MA5, dengan indikator Stochastic mengalami dead cross pada area deep oversold.

"Dengan demikian, kami memperkirakan IHSG akan mengalami pelemahan dengan saham pilihan utama hari ini: GGRM, PGAS, EMTK, dan ERAA," tulis Reliance Sekuritas dalam risetnya.

Perusahaan sekuritas tersebut memberikan rekomendasi beli untuk empat saham pilihan dengan target harga tertentu. Saham GGRM ditargetkan pada Rp 17.675, PGAS dengan target Rp 2.130, EMTK pada target Rp 750, dan ERAA ditetapkan memiliki target harga Rp 424.

Sebelum libur Idul Adha, IHSG ditutup anjlok sebesar 76,15 poin atau turun 1,23 persen ke level 6.130 dengan nilai transaksi mencapai Rp 15,24 triliun. Penurunan ini didorong oleh melemahnya seluruh sektor saham, dipimpin sektor industri yang anjlok 3,38 persen serta sektor konsumer primer sebesar 2,20 persen.

Sektor properti juga mengalami penurunan sebesar 2,14 persen, diikuti sektor konsumer non-primer 1,69 persen dan sektor keuangan 1,52 persen. Sebaliknya, penguatan hanya melanda saham di sektor teknologi, infrastruktur, dan transportasi.

Kejatuhan harga saham dari emiten besar seperti ASII, INCO, MLTP, UNTR, dan BUVA menjadi penekan terbesar pergerakan indeks. Tekanan terhadap IHSG tersebut juga diperparah oleh merosotnya harga saham-saham perbankan besar meliputi BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.

Artikel terkait

Rekomendasi