Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami rebound atau menguat pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Pergerakan ini dipicu oleh tren positif di bursa Wall Street serta penguatan nilai tukar rupiah setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan.
Melansir laporan dari Investor Daily, penguatan indeks juga didorong oleh kenaikan harga beberapa komoditas. Namun, proses penyesuaian saham-saham yang keluar dari indeks MSCI masih terus berlanjut dan berpeluang menjadi katalis negatif bagi pergerakan IHSG.
Pihak analis telah memetakan perkiraan rentang pergerakan indeks untuk perdagangan hari ini secara spesifik.
"IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 6.215-6.110 dan resist 6.420-6.525," tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam ulasan, Kamis (21/5/2026).
Kondisi pasar global sendiri dipengaruhi oleh penutupan bursa Wall Street yang menguat pada perdagangan sebelumnya. Lonjakan di bursa AS tersebut terjadi seiring dengan penurunan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi pemerintah, di tengah optimisme investor terkait situasi di Timur Tengah.
Tercatat harga minyak mentah jenis WTI terkoreksi signifikan sebesar 5,66% ke level US$ 98,26 per barel, sementara jenis Brent merosot 5,63% menjadi US$ 105,02 per barel. Penurunan harga minyak ini dipicu oleh pernyataan Donald Trump mengenai negosiasi dengan Iran yang telah mencapai tahap akhir.
Sejalan dengan penurunan harga komoditas tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah AS untuk tenor 10 tahun dan 30 tahun ikut melandai masing-masing lebih dari 9 bps dan 6 bps. Untuk aktivitas perdagangan hari ini, CGS International Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi saham JPFA, CPIN, WIIM, UNVR, BMRI, dan BDMN.