IHSG Berpeluang Menguat Setelah Ditutup Melemah ke Level 6599

IHSG Berpeluang Menguat Setelah Ditutup Melemah ke Level 6599
Foto: Ilustrasi IHSG Berpeluang Menguat Setelah Ditutup Melemah ke Level 6599.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mengalami penguatan pada perdagangan Selasa (19/5/2026) setelah sebelumnya mengalami tekanan dan ditutup melemah sebesar 1,85 persen ke level 6.599,250 pada hari Senin, dilansir dari Money.

Pergerakan indeks saham domestik pada perdagangan tersebut berpotensi mengalami technical rebound dengan rentang support di level 6.492 dan resistance pada level 6.705.

Faktor eksternal dan domestik seperti pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS serta fluktuasi harga minyak mentah dunia masih akan memengaruhi pasar modal dalam negeri.

Selain itu, pelaku pasar juga terus mencermati dampak rebalancing indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan FTSE Russell terhadap pergerakan bursa saham domestik.

ÔÇ£Untuk besok (Selasa) kami perkirakan IHSG berpeluang menguat dengan support 6.492 dan resist 6.705. Dimana kami perkirakan akan terjadi technical rebound, untuk sentimen diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah dan pergerakan harga komoditas minyak mentah,ÔÇØ ujar Herditya Wicaksana, Analis teknikal MNC Sekuritas.

Sejumlah saham ritel yang dinilai menarik perhatian untuk perdagangan tersebut meliputi PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) pada kisaran Rp 1.820-Rp 2.010 dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dengan target Rp 1.385-Rp 1.525. Selanjutnya, saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) juga direkomendasikan dengan target harga Rp 925-Rp 9.225.

Di sisi lain, sektor energi dan komoditas berbasis batu bara serta minyak dinilai menjadi pilihan defensif yang diuntungkan oleh kenaikan harga energi global akibat konflik Timur Tengah.

Beberapa emiten seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), hingga PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dinilai memiliki ketahanan karena potensi kenaikan pendapatan.

Emiten telekomunikasi seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga kembali diminati karena memiliki arus kas stabil dan sifat defensif di tengah pasar yang volatil.

ÔÇ£Sektor consumer defensive dan kesehatan juga dinilai berpotensi lebih tahan terhadap tekanan karena konsumsi masyarakat tetap berjalan meski ekonomi melambat,ÔÇØ tukas Hendra Wardana, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor.

Sebaliknya, tekanan berat diperkirakan masih melanda sektor yang sensitif terhadap suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, serta penurunan likuiditas pasar.

Saham berbasis konglomerasi, properti, bahan baku, hingga emiten dengan utang dollar AS besar dinilai menjadi kelompok yang lebih rentan selama kondisi global belum stabil.

Fase menantang yang dihadapi IHSG saat ini dipandang sebagai bentuk repricing besar akibat kombinasi tekanan global dan domestik secara bersamaan, bukan berarti kehilangan masa depan.

Meskipun volatilitas jangka pendek masih sangat tinggi dan risiko koreksi lanjutan tetap ada, situasi ini dinilai membuka peluang akumulasi saham berkualitas dengan valuasi lebih murah bagi investor jangka panjang.

Artikel terkait

Rekomendasi