Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk sebesar 223,55 poin atau anjlok 3,54 persen ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Penurunan tajam ini memperpanjang tren negatif pasar saham Indonesia di saat mayoritas bursa di kawasan Asia Pasifik justru mencatatkan penguatan signifikan, sebagaimana dilansir dari Investasi.
Kondisi pasar modal Indonesia berbanding terbalik dengan indeks Kospi Korea Selatan yang melesat 8,42 persen ke level 7.815 dan Nikkei 225 Jepang yang naik 3,14 persen ke posisi 61.684. Kinerja buruk ini menempatkan IHSG sebagai indeks dengan performa terendah di Asia Tenggara sepanjang tahun 2026 setelah mengalami penyusutan hingga 29,51 persen secara year to date.
Tekanan terhadap indeks domestik dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen dari dalam negeri dibandingkan dengan faktor eksternal. Pelaku pasar saat ini sedang mencermati proses evaluasi kuartalan FTSE Global Equity Index Series (GEIS) serta keputusan MSCI mendatang terkait pembekuan sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Selain ketidakpastian dari lembaga indeks global, pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah turut memperberat laju IHSG. Langkah Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen juga direspons negatif karena memberi sinyal meningkatnya risiko terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Kekhawatiran investor semakin diperdalam oleh rencana pemerintah membentuk badan ekspor komoditas yang dinilai berpotensi membatasi margin keuntungan emiten sektor batu bara dan minyak sawit. Kebijakan sentralisasi ini bahkan mendapat perhatian dari MoodyÔÇÖs Ratings dan S&P karena berisiko menimbulkan distorsi pasar serta berdampak buruk pada peringkat kredit Indonesia.
Secara analisis teknikal, pergerakan indeks diperkirakan masih berpotensi melanjutkan penurunan jika gagal mempertahankan posisi di atas level support 6.081. Apabila tekanan dari sentimen domestik ini terus berlanjut, posisi IHSG diprediksi akan menguji area rentang 5.882 hingga ke level lebih dalam.
ÔÇ£Kalau MSCI sudah tidak membekukan indeks, optimisme pasar bisa kembali,ÔÇØ ujar William Hartanto, Praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project.
Penilaian lain menunjukkan bahwa peluang untuk rebound atau berbalik arah menguat masih terbuka jika indeks mampu bertahan di atas level 6.092 untuk bergerak menuju area 6.250. Namun, risiko ke zona kritis di level 5.900 tetap mengintai apabila angka psikologis 6.000 berhasil ditembus ke bawah.
Sikap intervensi pemerintah terhadap mekanisme pasar dinilai dapat meningkatkan risk premium Indonesia sehingga memicu investor asing untuk terus mengurangi eksposur mereka di pasar domestik. Menghadapi situasi penuh ketidakpastian kebijakan ini, pelaku pasar disarankan untuk beralih pada strategi investasi yang lebih defensif dan selektif.