Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok sebesar 3,54 persen ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis (21/5/2026) akibat tekanan sentimen domestik yang kuat. Kemerosotan pasar saham tanah air ini terjadi di saat mayoritas bursa saham di Asia justru sedang mengalami tren penguatan, seperti dilansir dari Money.
Kondisi pasar berbalik arah setelah Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis points (bps) hingga mencapai level 5,25 persen. Kebijakan moneter tersebut diambil demi menahan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, namun berdampak negatif pada likuiditas pasar modal.
Selain kebijakan suku bunga, pelaku pasar juga merespons negatif ketidakpastian skema ekspor satu pintu melalui badan baru Danantara Indonesia, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Ketidakjelasan regulasi teknis mengenai badan pengatur ekspor sumber daya alam bentukan Presiden Prabowo Subianto ini membuat investor bersikap wait and see.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian memberikan analisis mengenai korelasi antara pergerakan bursa regional dengan kondisi pasar saham domestik saat ini.
ÔÇ£Betul sekali, koreksi IHSG hari ini (Kamis) memang cenderung didorong oleh sentimen domestik, mengingat mayoritas bursa Asia sebenarnya sudah rally sejak sebulan lalu,ÔÇØ ujar Azharys Hardian, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).
Azharys Hardian menjelaskan lebih lanjut bahwa keputusan BI menaikkan suku bunga acuan memicu dilema bagi pasar ekuitas.
ÔÇ£Pemicu utamanya adalah kejutan kenaikan suku bunga BI sebesar 50 bps ke level 5,25 persen sebuah dilema klasik yang bertujuan menahan depresiasi rupiah, namun di sisi lain menekan pasar ekuitas,ÔÇØ papar Azharys Hardian, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).
Kekhawatiran investor pasar modal semakin diperparah oleh penunjukan mantan Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Luke Thomas Mahony, sebagai Direktur Utama DSI yang belum disertai kejelasan mekanisme perdagangan.
ÔÇ£Sentimen ini diperparah oleh ketidakpastian skema baru ekspor satu pintu lewat BUMN, minimnya detail teknis membuat pelaku pasar cenderung wait and see karena khawatir kebijakan ini berpotensi menggerus margin para eksportir,ÔÇØ tukas Azharys Hardian, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).
Pandangan lain mengenai penurunan indeks saham ini disampaikan oleh Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, yang menyoroti faktor keluarnya modal asing.
ÔÇ£Menurut saya pelemahan IHSG hari ini lebih dominan dipicu kombinasi sentimen domestik dan keluarnya dana asing. Pasar melihat ada kenaikan tingkat risiko di Indonesia karena tekanan rupiah, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dan kualitas likuiditas pasar,ÔÇØ kata Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.
Reydi Octa menambahkan bahwa ketidakpastian kebijakan BUMN komoditas baru berimbas langsung pada tingkat kewaspadaan pelaku pasar dalam menilai prospek emiten.
ÔÇ£Sentimen mengenai BUMN berbasis komoditas dan ketergantungan terhadap sektor tertentu juga membuat investor lebih berhati-hati terhadap kinerja emiten kedepan,ÔÇØ ungkap Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.
Faktor kepercayaan atau trust investor global memegang peranan krusial yang membuat pergerakan IHSG tertinggal dari bursa saham Asia lainnya.
ÔÇ£Walaupun bursa Asia mayoritas menguat, IHSG justru tertinggal karena investor global saat ini lebih selektif terhadap emerging market yang dianggap memiliki risiko lebih tinggi. Jadi tekanan di IHSG lebih mencerminkan faktor trust dan arus modal asing sehingga pergerakannya belum bisa naik seiring bursa Asia secara umum,ÔÇØ lanjut Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi jual bersih (net sell) investor asing menembus angka Rp 508 miliar. Penjualan terbesar melanda saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp 204 miliar, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 146 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 142 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp 135 miliar, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp 120 miliar.
Sebaliknya, aliran dana asing masuk melalui aksi beli bersih (net buy) pada saham komoditas dan energi, dipimpin oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai Rp 204 miliar, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar Rp 173 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar Rp 88 miliar, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) senilai Rp 63 miliar, serta PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sebesar Rp 60 miliar.