IHSG Anjlok 3,46 Persen ke Level 6.370 Akibat Tekanan Bursa Global

IHSG Anjlok 3,46 Persen ke Level 6.370 Akibat Tekanan Bursa Global
Foto: Ilustrasi IHSG Anjlok 3,46 Persen ke Level 6.370 Akibat Tekanan Bursa Global.

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (19/5) resmi ditutup di zona merah. Dilansir dari Detik Finance, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan sebesar 3,46% yang membuat posisinya tertahan di level 6.370,68.

Koreksi yang cukup dalam pada indeks acuan domestik ini dipicu oleh tekanan hebat pada mayoritas sektor saham serta diperberat oleh lesunya pergerakan bursa global. Laporan pasar ini dirilis oleh PT Mega Capital Sekuritas, bagian dari CT Corpora yang beroperasi sejak 1991.

Meskipun indeks nasional merosot tajam, beberapa saham emiten terpantau masih berhasil membukukan penguatan. Di antaranya adalah Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) yang melesat 9,06%, Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) naik 2,12%, dan Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menguat 4,12%.

Kondisi berlawanan menimpa emiten pemicu koreksi bursa. Tekanan terbesar datang dari Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang anjlok 14,77%, Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) merosot 9,51%, serta Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melemah 2,86%.

Di sisi lain, aliran modal asing masih menunjukkan tren positif di pasar saham dalam negeri. Investor asing tercatat membukukan aksi beli bersih atau net buy senilai kurang lebih Rp306,34 miliar di pasar reguler dan mencapai Rp260,12 miar di seluruh pasar modal.

Melihat performa sektoral, sektor kesehatan menjadi satu-satunya pertahanan yang sukses menguat sebesar 0,55%. Sementara itu, penurunan terdalam dipimpin oleh sektor basic industry yang terkoreksi signifikan hingga menyentuh angka 7,30%.

Sentimen negatif dari luar negeri ikut menjadi faktor utama ambruknya pasar domestik setelah tiga indeks utama bursa saham Amerika Serikat kompak ditutup melemah. Dow Jones terpangkas 0,65% ke level 49.363, S&P 500 turun 0,67% ke posisi 7.353, dan Nasdaq terdepresiasi 0,84% ke level 25.870.

Saat ini para pelaku pasar sedang mencermati keputusan suku bunga acuan Mei 2026 yang akan dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Konsensus pasar memproyeksikan BI Rate bakal dinaikkan menjadi 5,00% dari posisi sebelumnya sebesar 4,75%.

Langkah pengetatan moneter ini diperkirakan diambil guna meredam tekanan terhadap mata uang garuda. Berdasarkan data perdagangan terbaru, nilai tukar rupiah saat ini bergerak di kisaran Rp 17.705 per dolar AS.

Di tengah volatilitas pasar, sejumlah emiten mengumumkan langkah strategis perusahaan. Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) mengumumkan agenda pembelian kembali saham atau buyback dengan alokasi dana maksimal US$6 juta atau setara dengan Rp104,25 miliar yang bersumber dari kas internal.

Manajemen DOID menargetkan akumulasi hingga 320,77 juta lembar saham atau setara dengan 4,36% dari seluruh modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Emiten pertambangan ini mencatatkan posisi likuiditas kas yang kuat sebesar US$210,26 juta per akhir Desember 2025.

Realisasi buyback DOID akan dieksekusi secara bertahap dalam kurun waktu paling lama 12 bulan setelah mendapatkan restu pemegang saham lewat RUPS pada 24 Juni 2026. Batas akhir pelaksanaan agenda ini dijadwalkan selesai pada Juni 2027.

Pasca-aksi korporasi tersebut, total ekuitas DOID diproyeksikan mengalami penyesuaian menjadi US$42,87 juta dari posisi awal US$48,87 juta. Volume saham perusahaan yang beredar di pasar juga akan menyusut menjadi 7,03 miliar lembar saham dari semula 7,35 billion saham.

Penurunan Laba ABMM dan Rencana Buyback BEEF

Beralih ke emiten energi, ABM Investama Tbk (ABMM) melaporkan perolehan laba bersih kuartal I-2026 senilai US$14,88 juta. Angka ini merefleksikan penurunan sebesar 30,39% jika dibandingkan dengan perolehan laba bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan laba bersih tersebut sejalan dengan pendapatan perusahaan yang terkontraksi menjadi US$222,65 juta dari posisi kuartal pertama tahun lalu sebesar US$250,02 juta. Manajemen mengonfirmasi bahwa lonjakan harga bahan bakar minyak akibat konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi beban operasional.

Harga minyak mentah dunia pada triwulan pertama tahun 2026 meroket hingga menyentuh US$101,38 per barel. Nilai tersebut melonjak drastis apabila disandingkan dengan posisi pada penutupan tahun 2025 yang berada di level US$57,42 per barel.

Guna mendongkrak kinerja di masa depan, ABMM kini sedang mempercepat penyelesaian proses perizinan untuk proyek PT Piranti Jaya Utama di Kalimantan Tengah dengan target operasi akhir 2026. Tambahan pendapatan juga diharapkan mengalir dari tambang batu bara PT Nirmala Coal Nusantara (NCN) di Aceh yang memiliki cadangan 31 juta ton setelah penjualan perdana dilakukan Februari lalu.

Sementara itu, Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) tidak ketinggalan menyiapkan aksi buyback saham dengan anggaran maksimal mencapai Rp100 miliar menggunakan kas internal. Target pembelian kembali dipatok sebanyak 333,33 juta lembar saham atau setara 4,10% dari modal ditempatkan.

Manajemen BEEF menetapkan batas harga pembelian tertinggi sebesar Rp300,60 per lembar saham. Pelaksanaan buyback emiten olahan makanan ini akan difasilitasi melalui BCA Sekuritas dan dilakukan berkala mulai 19 Mei 2026 hingga berakhir pada 18 Mei 2027.

Artikel terkait

Rekomendasi