Kepemimpinan di pasar modal Indonesia kini tidak lagi bisa diukur hanya dari besarnya nilai kapitalisasi pasar atau tingginya harga saham. Tantangan berat sedang membayangi seiring menyempitnya ruang fiskal dan meningkatnya tensi geopolitik global.
Seperti dilansir dari Investortrust, penegasan tersebut disampaikan oleh CEO Investor Trust Primus Dorimulu dalam acara penghargaan The Best Investortrust Companies 2026 di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (26/5/2026).
"Kepemimpinan sejati adalah kemampuan perusahaan menciptakan nilai yang berkelanjutan, menjaga integritas tata kelola, membangun kepercayaan investor, dan menunjukkan dampak nyata bagi para investor dan ekonomi nasional," ujar Primus.
Indonesia saat ini sedang berada di fase yang tidak menentu karena risiko investasi terus meningkat. Di sisi lain, pasar modal domestik juga tengah menghadapi titik penentuan yang sangat krusial.
Dari aspek makro, pertumbuhan ekonomi nasional sebenarnya menunjukkan performa positif pada kuartal pertama 2026 dengan capaian 5,61 persen. Angka pertumbuhan tersebut bahkan menjadi yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20.
Sektor investasi mampu tumbuh sebesar 5,96 persen, sementara serapan belanja pemerintah juga mengalami kenaikan hingga 1,8 persen. Meski begitu, lonjakan belanja pemerintah yang tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan memicu kekhawatiran terkait disiplin fiskal.
"Peningkatan belanja pemerintah yang sangat tinggi menimbulkan kekhawatiran karena tidak diimbangi oleh kenaikan penerimaan. Keberlangsungan fiskal dan disiplin fiskal pun mulai dipertanyakan," kata dia.
Kondisi fiskal ini memicu respons dari tiga lembaga pemeringkat internasional. Moody's dan Fitch tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia masing-masing pada level Baa2 dan BBB, namun kompak mengubah outlook menjadi negatif.
Sementara itu, S&P Global Ratings masih mempertahankan rating BBB untuk Indonesia dengan outlook stable. S&P mengingatkan bahwa tingkat kepercayaan pasar dan kepatuhan fiskal akan menjadi penentu posisi rating ke depan.
"Pesan dari lembaga rating jelas, fundamental ekonomi Indonesia masih dipercaya, namun kredibilitas kebijakan, reformasi tata kelola, dan disiplin fiskal akan menjadi ujian utama," ujar dia.
Situasi di lantai bursa sendiri menunjukkan pergerakan yang kurang menggembirakan. Pada perdagangan Selasa (26/5/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,74 persen ke posisi 6.160.
Jika dihitung dari posisi rekor tertinggi intraday yang sempat disentuh pada 20 Januari 2026 di level 9.174, maka performa IHSG saat ini telah merosot hampir 33 persen.
"Sejak awal 2026 hingga kini, investor asing diperkirakan telah mencatat net sale sebesar Rp 50 triliun. Ini sangat serius," ujarnya.
Melihat situasi tersebut, pembenahan tata kelola perusahaan tercatat menjadi hal yang mendesak untuk dilakukan. Tingkat transparansi yang lebih baik akan membantu emiten domestik mendapatkan valuasi yang optimal dari investor global.
"Serta memperkuat posisi sebagai emerging market yang diperhitungkan," jelasnya.
Bursa saham domestik dinilai masih memiliki sejumlah persoalan struktural yang belum tuntas. Beberapa di antaranya meliputi masalah free float, likuiditas pasar, transparansi, hingga struktur kepemilikan saham.
Faktor-faktor struktural tersebut berpengaruh langsung pada peluang saham-saham Indonesia untuk masuk ke dalam indeks global seperti FTSE dan MSCI. Namun, pasar modal mendapatkan suntikan tenaga baru dari investor retail domestik.
"Jumlah investor pasar modal kini telah mencapai 27,4 juta," katanya.
Kehadiran investor dari generasi milenial dan generasi Z ini menjadi penopang baru di tengah fluktuasi pasar global. Ketidakpastian global saat ini terus menekan pergerakan arus modal serta memicu volatilitas harga energi dunia.
"Dalam situasi seperti ini, Indonesia dituntut semakin lincah menavigasi perubahan. Para pimpinan perusahaan publik dituntut kemampuan untuk mampu menavigasi perubahan ini," tegasnya.
Arah kebijakan ekonomi yang rasional dan stabilitas nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang dicari oleh pasar saat ini. Kejelasan regulasi jauh lebih disukai oleh pelaku pasar dibandingkan dengan kondisi penuh ketidakpastian.
"Pasar mungkin bisa mentoleransi risiko, namun pasar tidak menyukai ketidakpastian. Stabilitas rupiah, biaya modal, dan minat investasi pada akhirnya sangat ditentukan oleh keyakinan bahwa arah kebijakan ekonomi Indonesia tetap terukur, rasional, dan dapat diprediksi," ujar dia.