Tekanan jual melanda pasar saham domestik secara signifikan. Dilansir dari Money, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 311,795 poin atau 4,64 persen ke level 6.411,525 menjelang penutupan sesi satu perdagangan pada Senin (18/5/2026).
Pada pembukaan perdagangan, indeks sebenarnya berada di posisi 6.628,976 dan sempat menyentuh area tertinggi pada level 6.631,282. Namun, IHSG langsung bergerak turun tajam dan terus berada di zona merah hingga menyentuh angka terendah di level 6.410,587.
Pelemahan ini didominasi oleh pergerakan negatif saham. Tercatat sebanyak 704 saham mengalami penurunan, sedangkan hanya 66 saham yang menguat dan 47 saham lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas di bursa terpantau ramai dengan volume transaksi mencapai 18,297 miliar saham. Nilai transaksi atau turnover tercatat sebesar Rp 9,990 triliun dengan frekuensi perdagangan menyentuh 1.482.475 kali transaksi.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai tekanan di pasar saham domestik masih cukup besar di tengah berlanjutnya arus keluar dana asing dan meningkatnya risiko geopolitik global.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG mencatatkan net foreign sell atau jual bersih harian sebesar Rp 1,35 triliun. Secara year to date (YTD), net foreign sell telah mencapai Rp 49,28 triliun dengan kinerja IHSG terkoreksi 22,25 persen sepanjang tahun berjalan.
Secara teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan IHSG berada dalam kondisi oversold dan berpotensi menguji area wave 5/A. Namun, indikator Stochastics KD masih memberikan sinyal negatif bersamaan dengan penurunan volume perdagangan.
Nafan menyebutkan bahwa pelaku pasar cenderung merespons neutral hingga negatif akibat pertemuan Amerika Serikat dan Tiongkok. Pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan substansial yang bersifat mengikat terkait stabilitas kawasan Timur Tengah maupun pembukaan normal jalur Selat Hormuz.
ÔÇ£Market cenderung merespons neutral hingga negatif karena pertemuan AS-Tiongkok belum menghasilkan kesepakatan substansial yang bersifat mengikat terkait stabilitas kawasan Timur Tengah maupun pembukaan normal jalur Selat Hormuz,ÔÇØ ujar Nafan.
Kondisi ini diperburuk oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang siap meningkatkan intensitas militer apabila Teheran tidak melunak. Situasi tersebut menjadi indikasi bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah masih sangat rapuh.
Faktor lain yang dicermati pasar adalah dampak keluarnya sejumlah saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index maupun MSCI Small Cap Index pasca pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pekan lalu.
Arus keluar dana asing atau foreign outflow diperkirakan masih akan berlanjut oleh Nafan. Meski demikian, intensitasnya diprediksi akan lebih rendah dibandingkan saat awal kepanikan pasar terjadi.
ÔÇ£Diperkirakan bahwa foreign outflow masih berlanjut dengan penurunan intensitas dibanding pada saat awal kepanikan,ÔÇØ paparnya.
Faktor penekan utama terhadap volatilitas IHSG juga datang dari pergerakan nilai tukar rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp 17.597 per dollar AS. Saat ini kurs rupiah mengalami pelemahan di atas level psikologis Rp 27.600 per dollar AS.
Para pelaku pasar saat ini cenderung mengambil posisi defensif. Mereka mencermati langkah intervensi Bank Indonesia menjelang pengumuman suku bunga acuan atau BI-Rate pada Rabu (20/5/2026).
ÔÇ£Diperkirakan BI akan menahan BI-Rate pada 4,75 persen demi menjaga stabilitas rupiah,ÔÇØ lanjutnya.