Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami penurunan tajam sebesar 1,50 persen ke level 6.223 pada sesi I perdagangan Kamis (21/5/2026) sekitar pukul 09.28 WIB. Penurunan ini memperpanjang tren negatif indeks yang terus melemah sejak 8 Mei 2026, seperti dilansir dari Investor Daily.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan sebanyak 409 saham mengalami penurunan, 180 saham menguat, dan 132 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi di lantai bursa terpantau telah menyentuh angka Rp 4 triliun pada paruh pertama perdagangan tersebut.
Pergerakan indeks sebelumnya ditutup melemah di level 6.318,5 atau turun 0,82 persen setelah sempat berfluktuasi. Analisis teknikal menunjukkan indikator Stochastic RSI berada di posisi oversold dan berpotensi memicu Golden Cross.
ÔÇ£Namun pelebaran histogram negatif MACD masih berlanjut. Sehingga diperkirakan IHSG hari ini akan bergerak variatif pada kisaran support 6.200-6.250 dan resistance pada 6.400-6.450,ÔÇØ tulis Phintraco Sekuritas.
Sentimen pasar saat ini turut dipengaruhi oleh pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR yang mematok target defisit anggaran tahun 2027 sebesar 1,8 persen hingga 2,4 persen dari PDB. Asumsi makro RAPBN 2027 mencakup pertumbuhan ekonomi 5,8-6,5 persen, inflasi 1,5-3,5 persen, rupiah di level Rp 16.800-17.500 per dolar AS, serta suku bunga SBN 10 tahun di angka 6,5-7,3 persen.
Pemerintah juga berencana mewajibkan ekspor komoditas sumber daya alam seperti CPO, batu bara, dan paduan besi melalui BUMN yang ditunjuk sebagai pengekspor tunggal.
ÔÇ£Diperkirakan investor akan cenderung wait and see terlebih dulu menyikapi asumsi RAPBN 2027 dan kebijakan ekspor SDA tersebut,ÔÇØ papar Phintraco Sekuritas.
Kondisi moneter dalam negeri turut menjadi sorotan setelah Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur Mei 2026. Langkah ini diambil demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam risiko inflasi.
ÔÇ£Namun masih perlu dicermati efek kenaikan BI Rate ini terhadap pergerakan Rupiah lebih lanjut, serta perlu diwaspadai dampak negatifnya terhadap sektor properti dan perusahaan yang banyak memiliki hutang,ÔÇØ papar Phintraco Sekuritas.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit perbankan dilaporkan mengalami akselerasi menjadi 9,98 persen YoY pada April 2026 dibandingkan capaian Maret 2026 yang sebesar 9,49 persen YoY. Berdasarkan data BRI Danareksa Sekuritas, tekanan jual asing juga dipicu oleh langkah MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham dari MSCI Standard & Small Cap Index, serta penundaan upgrade status pasar Indonesia oleh FTSE Russell.