Pasar saham Indonesia mengalami guncangan setelah Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG anjlok sebesar 4,31 persen ke level 6.433,81 pada perdagangan Senin pagi (18/5/2026), dipicu oleh tekanan sentimen global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Kemerosotan indeks ini disorot dalam laporan bursa yang dilansir dari Nasional, di mana sebanyak 664 saham melemah hingga menjadi beban bagi IHSG, sementara hanya 74 saham yang menguat dan 74 saham lainnya tidak bergerak.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI hingga pukul 10.00 WIB menunjukkan nilai transaksi perdagangan saham mencapai Rp 6,99 triliun dengan volume 13,20 miliar saham. Koreksi tajam melanda sejumlah sektor utama seperti barang baku, infrastruktur, perindustrian, transportasi, serta energi, termasuk anjloknya saham top losers pada indeks LQ45 seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Merespons situasi pasar keuangan tersebut, Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh sentimen pasar jangka pendek, sementara fondasi ekonomi nasional dinilai tetap kokoh.
"Nggak apa-apa nanti kita perbaiki. Fondasi ekonominya kan bagus. Itu masalah sentimen yang agak pendek," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Guna mencegah dampak gejolak pasar keuangan terhadap aktivitas ekonomi domestik yang lebih luas, kementerian terkait akan memprioritaskan pemeliharaan stabilitas makroekonomi.
"Jadi saya akan fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan perkembangan ekonomi tidak terganggu," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Sebagai langkah konkret meredam kepanikan pasar dan mengantisipasi potensi keluarnya modal asing, otoritas fiskal mulai mengambil tindakan agresif di pasar Surat Berharga Negara.
"Nanti kita juga akan masuk ke bond market, mulai hari ini. Himbara juga sudah masuk tapi hanya sedikit. Mulai hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Upaya stabilitas harga obligasi negara ini dipandang penting demi menjaga kepercayaan investor global agar tidak melakukan aksi jual massal.
"Sehingga pasar obligasinya terkendali, sehingga asing yang pegang obligasi nggak keluar karena takut misalnya ada capital loss gara-gara harga obligasi turun," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Kebijakan penanganan di pasar obligasi ini diharapkan pemerintah dapat memberikan dampak positif langsung dalam menahan tekanan depresiasi pada mata uang rupiah.
"Itu sekarang kan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.