Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi signifikan sebesar 19,55 persen ke level 6.956,81 hingga 30 April 2026 akibat tekanan sentimen geopolitik dan aksi jual investor asing. Penurunan ini dinilai para analis sebagai momentum bagi investor untuk mulai melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat yang bervaluasi murah.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dilansir dari Market menunjukkan investor asing mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp49,87 triliun sepanjang tahun berjalan. Kondisi ini menekan valuasi IHSG hingga berada pada level price earning ratio (PER) 14,69 kali dan price to book ratio (PBV) 1,9 kali.
Sejumlah saham penggerak pasar atau big caps masuk dalam jajaran top laggards yang menahan laju indeks. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) merosot 60,02 persen, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) jatuh 54,02 persen, sementara PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) terkoreksi 27,55 persen ke posisi Rp5.850 per lembar saham.
| Emiten | Penurunan Harga (%) | Kontribusi Tekanan Indeks (Poin) |
|---|---|---|
| PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) | 60,02% | 214,26 |
| PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) | 54,02% | 193,86 |
| PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) | 27,55% | 210,18 |
| PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) | 18,31% | 105,19 |
| PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) | 13,92% | 55,33 |
| PT MD Entertainment Tbk. (FILM) | 83,59% | N/A |
| PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) | 43,88% | N/A |
| PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) | 19,25% | N/A |
| PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) | 27,39% | 68,57 |
| PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) | 60,91% | 56,97 |
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, mengidentifikasi adanya peluang pada saham dengan visibilitas laba kuat namun memiliki PBV di bawah 1 hingga 1,5 kali. Ia menyarankan investor untuk tetap waspada terhadap agenda rebalancing indeks global dalam waktu dekat.
"Namun sudah boleh mengakumulasi, tapi bertahap dan selektif. Koreksi sekarang sudah masuk zona akumulasi menarik untuk jangka panjang. Perhatikan dua tanggal penting, 12 Mei 2026 ada pengumuman MSCI, dan 1 Juni 2026 efektif rebalancing. Kalau MSCI tidak memperburuk situasi, potensi relief rally cukup besar," ujar Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa rendahnya valuasi PER IHSG saat ini merupakan kesempatan bagi investor domestik untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang.
"Kondisi ini bisa menjadi peluang khususnya bagi investor domestik untuk melakukan akumulasi beli pada saham-saham valuasi murah, terlepas dari berbagai sentimen yang ada khususnya seperti pemberian outlook negatif dari Moody's dan Fitch Ratings," tandas Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.
Di sisi lain, analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyoroti bahwa sebagian besar risiko pasar termasuk pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian kebijakan bank sentral AS sudah mulai terdiskon dalam harga saham saat ini.
ÔÇ£Hal tersebut mencerminkan bahwa sebagian besar risiko, tekanan MSCI, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian FOMC, sudah cukup banyak terdiskon oleh pasar,ÔÇØ jelas Abida Massi Armand, Analis BRI Danareksa Sekuritas.
Abida memprediksi aliran dana asing baru akan kembali secara struktural pada kuartal III atau IV tahun 2026 mendatang. Hal ini bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah di bawah level Rp17.000 per dolar AS.
ÔÇ£Dalam skenario base case, Indonesia berpotensi kembali menjadi net buy asing pada kuartal III atau kuartal IV/2026, asalkan rupiah stabil di bawah Rp17.000 dan reformasi berjalan sesuai dengan jadwal,ÔÇØ kata Abida Massi Armand, Analis BRI Danareksa Sekuritas.