Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami keterpurukan yang signifikan sepanjang pekan terakhir sebelum memasuki masa libur panjang. Pasar modal Indonesia mencatatkan pelemahan selama empat hari berturut-turut.
Kombinasi sentimen negatif dari rebalancing MSCI serta tekanan kuat pada nilai tukar rupiah menjadi pemicu utama kejatuhan ini. Kondisi tersebut memicu aksi jual di lantai bursa.
Dikutip dari Investasi berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup merosot sebesar 1,98 persen atau berkurang 135,57 poin ke level 6.723,32 pada penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026). Penurunan ini memperpanjang tren koreksi pasar.
Secara akumulatif, indeks saham domestik ini tercatat anjlok sebesar 5,2 persen sepanjang sepekan perdagangan terakhir. Tekanan jual terpantau melanda hampir seluruh sektor saham secara merata.
Sektor barang baku menjadi lini yang terkoreksi paling dalam dengan penurunan mencapai 4,43 persen. Sektor infrastruktur menyusul dengan pelemahan sebesar 2,72 persen, serta sektor energi yang merosot 1,61 persen.
Pelemahan juga merembet ke sektor consumer non primer yang turun 1,40 persen, sektor kesehatan sebesar 1,22 persen, dan sektor teknologi yang melemah 0,71 persen.
Sektor properti dan real estate turut mencatat penurunan sebesar 0,70 persen. Sementara itu, sektor keuangan mengalami pelemahan 0,58 persen dan sektor consumer primer terkoreksi 0,44 persen.
Tekanan di pasar modal dalam negeri ini diperparah oleh aksi jual yang dilakukan investor asing. Pada perdagangan Rabu, investor asing membukukan net sell atau penjualan bersih sebesar Rp 1,53 triliun di seluruh pasar.
Meskipun demikian, dalam akumulasi sepekan terakhir, investor asing secara total masih mencatatkan net buy atau pembelian bersih yang bernilai jumbo mencapai Rp 9,17 triliun di seluruh pasar.