IHSG Anjlok ke Level Terendah dalam 10 Bulan Terakhir

IHSG Anjlok ke Level Terendah dalam 10 Bulan Terakhir
Foto: Ilustrasi IHSG Anjlok ke Level Terendah dalam 10 Bulan Terakhir.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok sebesar 203,28 poin atau 2,86 persen ke level 6.897,94 pada perdagangan sesi II hari Kamis (30/4/2026). Penurunan tajam hingga menyentuh level terendah baru dalam 10 bulan terakhir ini dipicu oleh sejumlah sentimen negatif yang menekan pasar.

Dilansir dari Investortrust, data BEI hingga pukul 13.42 WIB menunjukkan indeks sempat merosot lebih dari 3 persen hingga ke bawah level 6.900 pada awal sesi II. Kondisi ini diperparah oleh aksi jual investor asing serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pergerakan indeks ke depan masih dibayangi risiko koreksi susulan akibat tingginya ketidakpastian global.

ÔÇ£Dari sisi sentimen, nilai tukar Rupiah yg masih melemah terhadap dolar AS di Rp 17.390 masih menjadi sentimen pasar modal, kemudian pergerakan bursa regional Asia pun cenderung koreksi ditambah dengan emiten2 perbankan dan energi yang membebani pergerakan IHSG,ÔÇØ kata Herditya Wicaksana, Analis MNC Sekuritas.

Selain faktor nilai tukar, situasi pasar saham domestik juga diperberat oleh penurunan prospek terhadap sektor perbankan nasional.

ÔÇ£Didit memandang arus dana investor asing masih cenderung keluar (outflow) seiring tingginya ketidakpastian global, ditambah adanya penurunan outlook terhadap perbankan Indonesia.ÔÇØ kata Herditya Wicaksana, Analis MNC Sekuritas.

Sentimen serupa disampaikan oleh pihak PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) yang menyoroti dampak kenaikan imbal hasil obligasi negara.

ÔÇ£Hal ini terlihat dari Goverment Bonds Yield 10 tahun yang naik hingga 6,96%. Sehingga memicu outflow dari pasar saham dan juga obligasi,ÔÇØ kata Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).

Aksi pelepasan aset oleh pemodal internasional tercatat mencapai Rp 9,66 triliun dalam sepekan terakhir. Langkah ini terjadi setelah adanya perubahan konstituen pada indeks MSCI Indonesia yang mengeluarkan saham BREN dan DSSA akibat masuk dalam daftar HSC.

ÔÇ£Seiring dikeluarkannya BREN dan DSSA dari konstituen MSCI Indonesia karena kedua emiten tersebut masuk dalam HSC list,ÔÇØ terang Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).

Ketiadaan emiten baru dari Indonesia dalam rebalancing indeks MSCI bulan Mei diperkirakan akan menurunkan bobot investasi negara di pasar regional.

ÔÇ£Dari sisi dana pasif, Ahmad Faris mengatakan tidak adanya penambahan konsituten MSCI pada rebalancing Mei membuat Indonesia memiliki potensi penguarangan bobot di MSCI.ÔÇØ kata Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).

Kondisi makroekonomi domestik, khususnya pelemahan mata uang, tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar global saat ini.

ÔÇ£Dari segi makro, pelemahan Rupiah yang menjadi trigger outflow di saham perbankan menjadi concern dari investor asing,ÔÇØ tutur Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).

Artikel terkait

Rekomendasi