IHSG Anjlok 4,64 Persen Jelang Penutupan Sesi Satu

IHSG Anjlok 4,64 Persen Jelang Penutupan Sesi Satu
Foto: Ilustrasi IHSG Anjlok 4,64 Persen Jelang Penutupan Sesi Satu.

Tekanan jual di pasar saham domestik kian tidak terbendung pada perdagangan awal pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok sebesar 311,795 poin atau terkoreksi 4,64 persen ke level 6.411,525 menjelang penutupan sesi pertama, seperti dikutip dari Money.

Pada pembukaan perdagangan, indeks sebenarnya berada di posisi 6.628,976 dan sempat menyentuh area tertinggi pada level 6.631,282. Namun, setelah itu pergerakan indeks langsung merosot tajam ke zona merah hingga menyentuh angka terendah di level 6.410,587.

Pelemahan ini dipicu oleh dominasi saham yang bergerak negatif, dengan rincian 704 saham mengalami penurunan, 47 saham stagnan, dan hanya 66 saham yang menguat. Aktivitas di bursa terpantau ramai dengan volume transaksi mencapai 18,297 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 9,990 triliun dari 1.482.475 kali frekuensi perdagangan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai tekanan besar di pasar saham terjadi akibat berlanjutnya aliran dana asing yang keluar dari pasar domestik serta meningkatnya risiko geopolitik global. Berdasarkan data BEI, nilai jual bersih harian asing mencapai Rp 1,35 triliun, sementara secara year to date (YTD) foreign net sell menembus Rp 49,28 triliun dengan koreksi IHSG mencapai 22,25 persen sepanjang tahun berjalan.

Secara teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan posisi indeks berada dalam kondisi jenuh jual atau oversold dan berpotensi menguji area "wave 5/A". Di sisi lain, indikator Stochastics KD masih memberikan sinyal negatif yang disertai dengan penurunan volume perdagangan.

ÔÇ£Market cenderung merespons neutral hingga negatif karena pertemuan AS-Tiongkok belum menghasilkan kesepakatan substansial yang bersifat mengikat terkait stabilitas kawasan Timur Tengah maupun pembukaan normal jalur Selat Hormuz,ÔÇØ ujar Nafan.

Kondisi pasar semakin tertekan oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan kesiapan meningkatkan intensitas militer jika Teheran tidak melunak. Hal ini mengindikasikan bahwa stabilitas geopolitik di Timur Tengah masih sangat rentan.

Sentimen negatif lain datang dari respon pelaku pasar terhadap keluarnya sejumlah saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index serta MSCI Small Cap Index setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International pekan lalu. Nafan memperkirakan arus keluar dana asing masih terus berjalan.

ÔÇ£Diperkirakan bahwa foreign outflow masih berlanjut dengan penurunan intensitas dibanding pada saat awal kepanikan,ÔÇØ paparnya.

Faktor penekan volatilitas indeks bertambah seiring pergerakan nilai tukar rupiah yang tertahan di atas level psikologis, yakni pada kisaran Rp 27.600 per dollar AS. Pelaku pasar kini memilih posisi defensif seraya memantau kebijakan intervensi Bank Indonesia menjelang pengumuman BI-Rate pada Rabu (20/5/2026).

ÔÇ£Diperkirakan BI akan menahan BI-Rate pada 4,75 persen demi menjaga stabilitas rupiah,ÔÇØ lanjutnya.

Artikel terkait

Rekomendasi