IHSG Anjlok 3,46 Persen Akibat Rebalancing Indeks MSCI

IHSG Anjlok 3,46 Persen Akibat Rebalancing Indeks MSCI
Foto: Ilustrasi IHSG Anjlok 3,46 Persen Akibat Rebalancing Indeks MSCI.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok sebesar 228,56 poin atau 3,46 persen ke level 6.370,67 pada akhir perdagangan Selasa (19/5/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh aksi penyesuaian portofolio atau rebalancing oleh dana pasif menyusul keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI, seperti dilansir dari Investasi.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee menilai bahwa koreksi yang terjadi pada indeks saham domestik tersebut berkaitan erat dengan langkah antisipasi para pelaku pasar terhadap pergerakan dana global.

ÔÇ£Kalau dilihat, saham-saham yang paling tertekan itu rata-rata saham yang dikeluarkan MSCI dari indeks mereka. Pasar mengantisipasi potensi penurunan harga ketika fund pasif melakukan rebalancing,ÔÇØ ujar Hans Kwee, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana.

Para pelaku pasar diperkirakan telah memulai penyesuaian portofolio investasi mereka jauh sebelum tenggat waktu reposisi indeks MSCI yang jatuh pada 29 Mei 2026. Selain faktor domestik, kondisi pasar modal juga dipengaruhi oleh sentimen global akibat belum meredanya konflik geopolitik di tingkat internasional.

Hans memproyeksikan volatilitas pada pergerakan IHSG masih akan terus berlangsung dalam jangka pendek karena pasar juga tengah menantikan hasil evaluasi indeks dari FTSE Russell yang dijadwalkan pada 22 Mei 2026.

ÔÇ£Kalau ada saham Indonesia yang kembali dikeluarkan, tentu bisa memunculkan tekanan tambahan. Jadi satu hingga dua bulan ke depan market masih cukup volatile,ÔÇØ kata Hans Kwee, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana.

Kendati demikian, penurunan indeks saat ini dinilai lebih bersifat teknikal akibat sentimen indeks global dan tidak menunjukkan adanya penurunan pada kualitas fundamental dari masing-masing emiten di bursa. Situasi koreksi dalam ini dipandang menjadi momentum bagi para investor untuk melakukan akumulasi pembelian terhadap saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dan emiten berkualitas yang harganya kini menjadi lebih murah, seperti sektor perbankan dan saham komoditas emas.

Artikel terkait

Rekomendasi