IHSG Anjlok 3 Persen Lebih Dipicu Kekhawatiran Kebijakan Ekspor Prabowo

IHSG Anjlok 3 Persen Lebih Dipicu Kekhawatiran Kebijakan Ekspor Prabowo
Foto: Ilustrasi IHSG Anjlok 3 Persen Lebih Dipicu Kekhawatiran Kebijakan Ekspor Prabowo.

Pasar saham Indonesia mengalami aksi jual massal yang hebat pada perdagangan Kamis sore. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot hingga 3,38 persen pada pembukaan sesi kedua dan mendekati batas pembekuan perdagangan atau trading halt.

Dilansir dari Investortrust, kejatuhan ini sempat menyeret indeks ke level terendah 6.080 sebelum bergerak sedikit ke posisi 6.104. Padahal, pada sesi pagi, indeks tersebut sudah terkoreksi sebesar 2,76 persen.

Kemerosotan ini mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu pasar ekuitas dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini. IHSG tercatat telah melemah hampir 30 persen sejak awal tahun (year-to-date).

Kondisi ini mencerminkan pengikisan hebat pada kepercayaan investor terhadap ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Di sisi lain, pasar negara berkembang secara global justru sedang mengalami pemulihan.

Tekanan eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penguatan dolar AS turut memengaruhi aset berisiko global. Namun, investor kini lebih menyoroti masalah kebijakan domestik di Indonesia.

Para pelaku pasar mengkhawatirkan intervensi negara dalam ekspor komoditas yang dinilai bisa merusak efisiensi. Kebijakan ini juga dikhawatirkan melemahkan daya saing korporasi serta mengurangi transparansi pasar.

Kejatuhan pasar saham ini juga mengancam nilai tukar rupiah yang telah melemah ke kisaran Rp17.686 per dolar AS. Angka tersebut berada jauh di bawah asumsi anggaran pemerintah tahun 2026 yang sebesar Rp16.500.Kemerosotan pasar modal dipimpin oleh saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat besar. Saham emiten petrokimia Chandra Asri Pacific (TPIA) ambles 14,74 persen, sedangkan perusahaan energi terbarukan Barito Renewables Energy (BREN) merosot 7,62 persen.

Penurunan tajam juga menimpa saham sektor infrastruktur dan energi lain yang terikat dengan elite miliarder Indonesia, termasuk BRPT, CUAN, DSSA, dan AMMN.

Koreksi massal ini memukul hampir seluruh sektor utama. Saham sektor bahan baku ambruk 7,44 persen, energi turun 6,01 persen, transportasi merosot 4,69 persen, sementara sektor infrastruktur dan barang konsumsi pokok masing-masing kehilangan lebih dari 5 persen.

Berdasarkan regulasi Bursa Efek Indonesia, perdagangan saham dapat dihentikan sementara jika indeks acuan mengalami kejatuhan hingga 8 persen dalam satu sesi.

Di tengah kepanikan pasar modal tersebut, Pelaksana Tugas Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, berusaha menenangkan para investor. Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi jangka panjang Indonesia masih tetap kokoh.

"Investment in the capital market is a long-term investment. We continue to believe IndonesiaÔÇÖs economic fundamentals will improve going forward," kata Jeffrey di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta pada Kamis.

Jeffrey menambahkan bahwa otoritas terkait sedang mempercepat persetujuan izin usaha dan reformasi investasi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"There was also a message from the President that business licensing and permits will be simplified, from processes that used to take two years to potentially just weeks," ujar Jeffrey.

Keraguan Pelaku Pasar

Meskipun demikian, sentimen pasar tampaknya belum teryakinkan oleh pernyataan tersebut.

Kecemasan investor semakin meningkat setelah pemerintah resmi memusatkan kegiatan ekspor sumber daya alam strategis. Mekanisme baru ini dikendalikan oleh negara melalui lembaga Danantara Sumberdaya Indonesia.

Kebijakan baru tersebut memberikan peran dominan kepada pemerintah dalam ekspor batu bara, minyak kelapa sawit mentah (CPO), dan ferolodam. Pejabat berwenang berkilah langkah ini diperlukan untuk mengatasi praktik transfer pricing, under-invoicing, dan kebocoran devisa yang diperkirakan mencapai 150 miliar dolar AS per tahun.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa seluruh ekspor mineral dan batu bara nantinya akan dialirkan melalui entitas yang ditunjuk pemerintah.

"All minerals will later go through Danantara," kata Bahlil pada hari Rabu dalam acara IPA Convex 2026 di dekat Jakarta.

Namun, kelompok pelaku usaha khawatir struktur baru ini akan memperlambat proses transaksi keuangan. Kebijakan ini juga dinilai menciptakan birokrasi tambahan dan berpotensi mengalihkan pembeli internasional ke negara pesaing seperti Malaysia dan Vietnam.

Hasil analisis menunjukkan bahwa pasar sebenarnya tidak menolak tata kelola yang lebih kuat. Namun, pasar akan selalu menghukum kebijakan yang dianggap mengurangi efisiensi, meningkatkan intervensi, dan menciptakan ketidakpastian.

Gejolak pasar modal ini terjadi hanya berselang satu hari setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Langkah darurat ini diambil demi menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan risiko inflasi.

Bagi para investor, kenaikan suku bunga tersebut dinilai belum cukup untuk memulihkan kepercayaan. Pembuat kebijakan harus mampu meyakinkan pasar bahwa Indonesia tetap berkomitmen pada transparansi, daya saing sektor swasta, dan tata kelola ekonomi yang dapat diprediksi.

Artikel terkait

Rekomendasi