Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam sebesar 3,46 persen hingga menyentuh level 6.370 pada Selasa malam (19/5/2026). Penurunan signifikan ini menjadikan bursa saham Indonesia sebagai salah satu pasar dengan performa terburuk di kawasan Asia Pasifik.
Kondisi pasar modal Indonesia berbanding terbalik dengan mayoritas bursa regional yang cenderung stabil dan sebagian mengalami penguatan, sebagaimana dilansir dari Money. Tekanan jual agresif melanda saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor industri dasar yang anjlok mencapai 7,30 persen.
Aksi pengurangan risiko secara besar-besaran dilakukan oleh investor institusi dan asing pada saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Kondisi serupa menimpa saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), serta PT Semen Indonesia Tbk (SMGR).
Penurunan harga minyak dunia dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global ikut memukul saham komoditas serta energi. Sebaliknya, sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang bertahan di zona hijau karena sifatnya yang defensif di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan.
Faktor domestik lain yang memperberat pergerakan IHSG adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp 17.706 per dollar AS. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memberikan analisis terkait anomali pergerakan pasar saham domestik tersebut.
"Ini menandakan bahwa pasar Indonesia sedang menghadapi tekanan domestik yang jauh lebih dominan dibanding sentimen global," ujar Hendra.
Pelemahan rupiah memicu kekhawatiran meningkatnya inflasi impor, beban utang luar negeri korporasi, serta risiko fiskal pemerintah. Kombinasi keluarnya dana asing dan koreksi mata uang nasional membuat stabilitas rupiah dalam beberapa hari ke depan menjadi penentu utama pasar modal.
Investor saat ini sedang menantikan pidato Presiden Prabowo Subianto dalam sidang paripurna DPR pada Rabu (20/5/2026) untuk melihat kepastian kebijakan ekonomi. Secara teknikal, area 6.300 menjadi batas support psikologis penting yang menentukan potensi pemulihan IHSG menuju level 6.500 hingga 6.535.
"Pasar saat ini tidak hanya membutuhkan sentimen positif, tetapi juga membutuhkan kepercayaan. Ketika global mulai mereda namun IHSG tetap runtuh, artinya investor sedang menunggu kepastian arah ekonomi Indonesia ke depan," beber Hendra.
Pelaku pasar diimbau untuk lebih selektif dan defensif dengan memprioritaskan saham berfundamental kuat serta likuid yang tahan terhadap gejolak kurs. Momentum pidato kenegaraan esok hari diproyeksikan akan mengonfirmasi arah pergerakan indeks selanjutnya.
"Besok pidato Presiden berpotensi menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan apakah pasar mulai menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah," lanjut Hendra.