Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ambruk hingga lebih dari 4 persen pada perdagangan hari Senin, 18 Mei 2026, menyusul sentimen negatif dari penyesuaian indeks global serta peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah.
Data perdagangan RTI Business mencatat pergerakan indeks terus merosot sejak dibuka anjlok 1,40 persen ke posisi 6.628,97, kemudian menyentuh level 6.435,295 atau melemah 4,28 persen dengan 676 saham terkoreksi.
Kondisi pasar modal dalam negeri ini dibebani oleh aksi jual pada saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index, serta peringatan dari FTSE Russell terkait penghapusan saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi.
Tekanan eksternal turut diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah dunia di atas US$100 per barel setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran, yang kemudian memicu pelemahan mayoritas bursa saham di Asia-Pasifik.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa tekanan terhadap pasar saham domestik juga dialami oleh mayoritas negara berkembang akibat ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang memicu penguatan dolar.
"Ada juga potensi The Fed bakal kemungkinan tidak menurunkan suku bunga pada tahun ini atau malah ada kemungkinan naikin bunga karena data inflasi kemarin Amerika masih terus naik ke level 3,8% year-on-year," ujar Gunarto.
Situasi tersebut membuat investor global mulai menarik dana dari pasar negara berkembang dan kembali masuk ke aset berbasis dolar AS, yang kemudian mendorong terjadinya aksi ambil untung di pasar saham Asia termasuk Indonesia.
"Ada juga kemungkinan dari sisi harga minyak terus melonjak karena tensi geopolitik masih tinggi. Itulah kenapa investor global banyak keluar dari emerging market," kata Gunarto.
Pelemahan mata uang utama Asia terhadap dolar pada pekan sebelumnya dinilai membuat aksi ambil untung di pasar negara berkembang menjadi hal yang wajar terjadi.
"Mata uang utama Asia itu seluruhnya melemah terhadap dolar pada pekan lalu. Jadi wajar kalau terjadi profit taking di pasar saham terutama di emerging market seperti Indonesia," ujar Gunarto.
Meskipun demikian, sektor kesehatan, energi baru terbarukan, komoditas kelapa sawit dan batu bara, serta sektor pangan domestik dinilai masih memiliki daya tarik yang cukup defensif.
"Ya kita lihat ini sektor-sektornya, memang kalau kita lihat sektor kesehatan ternyata masih bisa bangkit ya," kata Gunarto.
Pilihan investasi lain yang dianggap prospektif di tengah volatilitas pasar saat ini adalah sektor-sektor yang harganya masih berada di bawah nilai wajarnya.
"Lalu juga sektor energi baru terbarukan saya rasa juga menarik. Terus juga sektor yang terkait dengan energi minyak, gas, terus juga sektor yang memang masih under value ya. Ininya nilainya seperti komoditas kelapa sawit ataupun juga batu bara," ujar Gunarto.
Di sisi lain, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai pasar cenderung merespons netral hingga negatif karena pertemuan bilateral antara Amerika Serikat dan China belum membuahkan kesepakatan konkrit untuk kawasan Timur Tengah.
"Market cenderung merespons neutral hingga negatif karena pertemuan AS-Tiongkok belum menghasilkan kesepakatan substansial yang bersifat mengikat terkait stabilitas kawasan Timur Tengah maupun pembukaan normal jalur Selat Hormuz," ujar Nafan.
Kekhawatiran para pemodal global semakin membesar menyusul sikap keras dari pemerintah Amerika Serikat terhadap wilayah Teheran.
"Apalagi ditambah ancaman Trump yang siap meningkatkan intensitas militer jika Teheran tidak melunak sehingga hal ini menandakan bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah masih sangat rapuh," kata Nafan.
Nilai tukar rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp17.597 per dolar AS turut menjadi faktor penekan utama bagi pergerakan indeks di pasar saham domestik.
"Di sisi lain, pergerakan nilai tukar Rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp17.597 per USD tetap menjadi faktor penekan utama bagi volatilitas indeks," katanya.
Menghadapi tingginya fluktuasi ini, sebagian besar pelaku pasar memilih untuk bersikap defensif menjelang pengumuman kebijakan suku bunga acuan domestik.
"Para pelaku pasar cenderung mengambil posisi defensif sambil mencermati langkah intervensi BI menjelang pengumuman BI-Rate pada Rabu, 20 Mei 2026. Diperkirakan BI akan menahan BI-Rate pada 4,75% demi menjaga stabilitas Rupiah," ujarnya.
Merespons kepanikan pasar tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengimbau para investor untuk memanfaatkan momentum penurunan ini dengan membeli saham-saham yang sedang murah karena fundamental ekonomi nasional tetap kokoh.
"Jadi, teman-teman nggak usah khawatir, investor pasar saham kalau saya bilang jangan takut serok ke bawah sekarang. Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari udah balik. Jadi, jangan lupa beli saham," kata Purbaya.
Penurunan kinerja indeks saham dinilai murni karena pengaruh sentimen jangka pendek, sehingga pemerintah akan tetap fokus menjaga fondasi perekonomian makro agar agenda pembangunan nasional tidak terganggu.
"Kan pondasi ekonominya kan bagus, itu masalah sentimen jangka pendek aja. Jadi, saya akan fokus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pembangunan ekonomi tidak terganggu," beber Purbaya.
Indikator pertumbuhan ekonomi yang bergerak positif menunjukkan kondisi riil Indonesia saat ini masih berada dalam posisi yang aman dari risiko resesi.
"Kita kan sekarang belum resesi. Ekonomi masih tumbuh kencang, jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semua," tegas Purbaya.
Sementara itu, dari pengumuman resmi FTSE Russell bertajuk Index Treatment for the June 2026 Index Review, otoritas indeks tersebut menegaskan akan menghapus sekuritas yang terdampak pada nilai nol mulai pembukaan pasar hari Senin, 22 Juni 2026.
"Untuk memastikan integritas dan replikabilitas indeks, FTSE Russell akan menghapus sekuritas yang terdampak pada harga nol pada tinjauan Juni 2026, efektif mulai pembukaan pasar pada Senin, 22 Juni 2026," tulis pengumuman resmi tersebut.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan kepada detikcom bahwa kombinasi sentimen regional, gejolak geopolitik, dan posisi nilai tukar rupiah di level Rp17.676 per dolar AS secara simultan memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi serta perlambatan ekonomi global.
"Tidak hanya MSCI dan FTSE saja yang mempengaruhi IHSG hari ini, namun dari sisi pasar global dan regional Asia juga turut menekan pergerakan indeks," ungkap Herditya.
"Hal ini juga kembali meningkatkan kekhawatiran investor akan tekanan inflasi ke depannya serta perlambatan ekonomi global," pungkasnya.
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menambahkan bahwa proses penyesuaian portofolio oleh pengelola dana asing dan passive funds pasca-pengumuman indeks global ini akan berjalan secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan.
"Pasar menilai kebijakan ini berpotensi memicu penyesuaian portofolio lanjutan dari investor asing maupun passive funds, terutama pada saham-saham dengan free float terbatas dan likuiditas yang kurang ideal," ujar Reydi.
"Umumnya proses rebalancing dilakukan bertahap dalam beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung profil risiko, tujuan investasi dan likuiditas di pasar," pungkasnya.