IHSG Ambruk 3,46 Persen ke Level 6.370 di Tengah Penguatan Bursa Global

IHSG Ambruk 3,46 Persen ke Level 6.370 di Tengah Penguatan Bursa Global
Foto: Ilustrasi IHSG Ambruk 3,46 Persen ke Level 6.370 di Tengah Penguatan Bursa Global.

Pasar modal Indonesia kembali mengalami tekanan besar hingga menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG anjlok signifikan. Kondisi ini terjadi di tengah meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah dan membaiknya sentimen investor global.

Dikutip dari Kompas, IHSG ambruk 3,46 persen ke level 6.370 dan menjadi salah satu indeks dengan performa terburuk di kawasan. Padahal, mayoritas bursa regional bergerak relatif stabil bahkan sebagian berhasil menguat.

Pergerakan IHSG ini berlawanan arah dengan tren global. Saat bursa domestik tertekan, Bursa Eropa justru dibuka menghijau, mayoritas indeks Asia Pasifik stabil, dan imbal hasil obligasi global mulai menurun.

Kejatuhan indeks acuan nasional turut menyeret turunnya harga saham perusahaan emiten properti, termasuk sejumlah pemain besar di tanah air. Saham PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) yang dibuka pada harga Rp 169 per lembar, merosot menjadi Rp 162 per lembar.

Koreksi juga menimpa PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) yang turun dari Rp 306 menjadi Rp 304 per lembar. Sementara itu, PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) yang dibuka pada posisi Rp 118 bergerak turun ke level Rp 115.

Di sisi lain, hanya sedikit emiten properti yang mampu bertahan di zona hijau. Salah satunya adalah PT Ciputra Development Tbk (CTRA) yang mencatatkan penguatan harga saham sebesar 3,05 persen sejak pembukaan perdagangan.

Daftar Pergerakan Saham Emiten Properti Nasional
Nama EmitenHarga Saham (Rp)Persentase Penurunan
682,90 persen304
0,65 persen1621,79 persen
1143,39 persen104
0,95 persen672,90 persen
1040,95 persen83
4,6 persen7100,7 persen
4.0601,22 persen128
7,25 persen362,7 persen
691,43 persen1.740
2,25 persen1340,74 persen

Sentimen negatif pasar modal turut dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang terus melemah. Mata uang rupiah terpantau merosot hingga ke area Rp 17.706 per dollar AS.

Pelemahan nilai tukar ini menjadi alarm penting bagi para pelaku pasar. Tekanan terhadap IHSG diperkirakan semakin besar seiring berlanjutnya koreksi rupiah yang disertai arus modal asing keluar dari pasar saham.

Artikel terkait

Rekomendasi