Arus jual bersih oleh investor asing terpantau masih mengalir deras hingga pertengahan kuartal II/2026. Meskipun demikian, sejumlah pelaku pasar optimis bahwa modal asing berpotensi kembali masuk ke pasar saham domestik pada semester kedua tahun ini.
Dikutip dari Market, data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan aksi jual bersih atau foreign capital outflow mencapai Rp2,34 triliun pada perdagangan Selasa (28/4/2026). Angka ini menambah daftar panjang tekanan terhadap pasar modal dalam negeri.
Akumulasi net sell oleh pemodal internasional sejak awal tahun atau year-to-date (ytd) kini menyentuh angka Rp47,19 triliun. Kondisi ini memberikan tekanan besar terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa ditutup melemah sebesar 0,48 persen ke posisi 7.072,39 pada Selasa (28/4/2026). Jika dihitung sepanjang tahun berjalan, performa IHSG telah merosot tajam hingga 18,21 persen.
Pelemahan yang terjadi di pasar saham Indonesia hingga akhir bulan ini dipicu oleh perpaduan sentimen global dan faktor domestik. Keputusan MSCI menjadi salah satu faktor kunci yang memicu kekhawatiran arus keluar dana asing dalam jangka pendek.
Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh antisipasi terhadap pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) di Amerika Serikat. Rapat yang dijadwalkan pada Rabu (29/4/2026) ini menjadi momen krusial karena merupakan masa jabatan terakhir Jerome Powell sebagai Ketua The Fed.
Abida Massi Armand, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menjelaskan bahwa koreksi signifikan telah menekan rasio harga terhadap laba (PE) IHSG ke level 11 hingga 12 kali. Angka ini berada di bawah rata-rata historis yang biasanya berada di angka 14 sampai 15 kali.
"Hal tersebut mencerminkan bahwa sebagian besar risiko, tekanan MSCI, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian FOMC, sudah cukup banyak terdiskon oleh pasar," kata Abida.
Bagi para pengelola dana dengan orientasi jangka menengah, Abida menilai posisi indeks saat ini sudah memberikan margin of safety yang cukup untuk melakukan akumulasi saham secara bertahap.
Proyeksi Pemulihan di Semester II/2026
Walaupun valuasi pasar saat ini tergolong murah, investor masih menantikan katalis positif untuk pemulihan. Stabilitas nilai tukar rupiah dan arah kebijakan suku bunga The Fed tetap menjadi fokus utama yang dipantau pelaku pasar.
Ada risiko arus keluar modal tambahan hingga Rp15 triliun sebagai dampak dari kebijakan MSCI. Namun, optimisme tetap terjaga berkat serangkaian pembenahan internal yang dilakukan oleh pihak bursa efek.
Langkah strategis seperti pengetatan kriteria indeks, perbaikan aturan free float, serta penerapan high shareholding concentration (HSC) diharapkan mampu memperkuat struktur pasar. Reformasi ini dinilai penting untuk meningkatkan daya tarik di mata investor global.
"Dalam skenario base case, Indonesia berpotensi kembali menjadi net buy asing pada kuartal III atau kuartal IV/2026, asalkan rupiah stabil di bawah Rp17.000 dan reformasi berjalan sesuai dengan jadwal," ujar Abida.
Upaya pemenuhan free float sebesar 15 persen dan sistem klasifikasi investor yang lebih transparan diyakini akan meningkatkan kepercayaan institusi global dalam jangka panjang. Meski begitu, kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lama masih menjadi tantangan bagi stabilitas pasar negara berkembang.