Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka merosot pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Laju indeks tertahan oleh guncangan pasar global serta kekhawatiran para pemodal terhadap lonjakan inflasi dunia.
Dikutip dari Money, data Bursa Efek Indonesia menunjukkan indeks langsung anjlok 94,344 poin atau 1,40 persen ke posisi 6.628,976 pada sesi preopening. Pelemahan berlanjut saat bursa resmi dibuka.
Pada awal perdagangan, IHSG terjebak di zona merah dengan penurunan hingga 188,05 poin atau setara 2,80 persen ke level 6.535,27. Indeks sempat menyentuh posisi tertinggi 6.631,28 sebelum melorot ke level terendah di 6.532,83.
Situasi pasar hari ini tergolong padat. Volume transaksi menembus 6,284 miliar lembar saham dengan nilai perputaran mencapai Rp 3,896 triliun lewat frekuensi yang tercatat sebanyak 560.900 kali.
Kondisi ini dibarengi dengan rontoknya harga mayoritas saham. Sebanyak 564 saham terpantau melemah, sedangkan 111 saham berhasil menguat dan 284 saham lainnya tidak bergerak dari posisi semula.
Keterpurukan IHSG berdampak langsung pada jajaran indeks sektoral utama. Indeks LQ45 menyusut 17,29 poin atau 2,63 persen menuju level 640,59, sementara Jakarta Islamic Index terkoreksi 14,98 poin atau 3,42 persen ke posisi 422,91.
Selanjutnya, indeks KOMPAS100 terpangkas 28,84 poin atau 3,23 persen ke level 864,41. Indeks ISSI juga melemah 6,71 poin atau 2,76 persen menuju 236,29, disusul IDX30 yang turun 8,03 poin atau 2,16 persen ke posisi 363,25. Adapun indeks JII70 turun 5,02 poin atau 2,94 persen ke level 165,64.
Faktor eksternal dinilai masih mendominasi tekanan terhadap bursa domestik. Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa pergerakan indeks pada awal pekan ini sangat dipengaruhi oleh dinamika global dan domestik.
Pelaku pasar terus mengamati ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berisiko mengganggu stabilitas keuangan dunia. Selain itu, potensi keluarnya modal asing akibat penyesuaian bobot indeks MSCI pada Rabu, 13 Mei 2026, masih membayangi.
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS turut memicu kekhawatiran mengenai stabilitas arus modal. Herditya memperkirakan titik support indeks hari ini berada di posisi 6.682 dengan area perlawanan atau resistensi pada level 6.789.
ÔÇ£Untuk Senin kami perkirakan IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya dengan support 6.682 and resist 6.789. Untuk sentimen sendiri kami perkirakan investor masih mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, tekanan jual dan outflow dari IHSG terkait rebalancing MSCI, serta nilai tukar rupiah terhadap dollar AS,ÔÇØ ujar Herditya.
Di sisi lain, Founder Republik Investor, Hendra Wardana, melihat bursa berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan sideways melemah menjelang masa libur panjang pada Mei 2026.
Pasar dinilai tengah beradaptasi setelah tekanan jual melanda saham-saham dengan kapitalisasi besar akibat rebalancing indeks MSCI global. Saat ini, level psikologis 6.900 menjadi ujian penting pertahanan bursa.
Apabila aksi jual oleh investor asing terus bergulir hingga indeks gagal bertahan di atas batas psikologis tersebut, maka penurunan susulan ke kisaran 6.600 hingga 6.700 berpeluang terjadi.
Namun, penurunan yang cukup dalam ini dinilai menyimpan potensi pembalikan arah secara teknikal. Peluang rebound tetap terbuka jika tekanan pasar global mulai mereda dan nilai tukar rupiah bergerak lebih stabil.
Hendra menegaskan, kombinasi capital outflow, pelemahan nilai tukar rupiah, risiko pelambatan ekonomi global, serta ketidakpastian politik dunia menjadi pemicu utama fluktuasi pasar. Investor pun masih memantau kebijakan suku bunga The Fed di tengah laju inflasi Amerika Serikat yang belum landai.