IHSG Ambles 2,49 Persen ke Level 6.435 pada Sesi I

IHSG Ambles 2,49 Persen ke Level 6.435 pada Sesi I
Foto: Ilustrasi IHSG Ambles 2,49 Persen ke Level 6.435 pada Sesi I.

Laju Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terkoreksi tajam hingga 163 poin atau sekitar 2,49 persen ke posisi 6.435 menjelang akhir penutupan sesi I pada Selasa (19/5/2026).

Seperti dilansir dari Investortrust, kemerosotan indeks saham domestik ini terjadi bersamaan dengan tertekannya nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp 17.715 per dollar AS.

Kondisi pasar modal dalam negeri ini kontras dengan pergerakan mayoritas bursa saham di Asia, seperti indeks Hang Seng dan Strait Times yang justru terpantau mengalami penguatan.

Selain faktor dollar AS, mata uang rupiah juga menunjukkan pelemahan yang signifikan terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya, termasuk Euro dan Dollar Singapura.

Penurunan tajam IHSG didorong oleh merosotnya seluruh sektor saham, dengan sektor material dasar memimpin kejatuhan hingga lebih dari 7 persen, diikuti sektor energi yang anjlok di atas 5 persen.

Sektor transportasi juga melemah sebesar 4 persen, sementara sektor infrastruktur terkoreksi 3,11 persen, dan sektor industri mengalami penurunan sebesar 2,28 persen.

Koreksi indeks kian diperparah oleh rontoknya saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar (big cap), terutama jajaran emiten milik Prajogo Pangestu.

Beberapa emiten tersebut meliputi TPIA yang ambles 14,75 persen, DSSA turun 11,36 persen, AMMN merosot 11,30 persen, serta BREN yang melemah 6,58 persen.

Emiten big cap lain seperti MORA juga jatuh hingga 11,41 persen, disusul oleh EMAS yang terkoreksi 10,46 persen, dan RLCO yang anjlok sebesar 14,91 persen.

Tekanan jual juga berlanjut pada saham-saham perbankan besar (big bank) tanah air, yang turut menyeret indeks ke zona merah, di antaranya BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.

Pada perdagangan hari sebelumnya, IHSG sempat ambruk hingga 325 poin atau melampaui 4,3 persen, sebelum akhirnya berhasil ditutup pada level 6.599.

Aksi jual bersih oleh investor asing (net sell) tercatat mencapai Rp 463,99 miliar, dengan pelepasan saham terbesar terjadi pada ANTM senilai Rp 315,03 miliar.

Investor asing juga membukukan penjualan bersih pada saham BREN sebesar Rp 152,53 miliar dan saham AMMN yang mencapai nilai Rp 149,08 miliar.

Berdasarkan data sektoral, pergerakan seluruh sektor saham kompak melemah yang dipimpin oleh penurunan sektor transportasi sebesar 6,20 persen serta sektor material dasar sebesar 5,17 persen.

Pelemahan ini meluas ke sektor industri sebesar 3,25 persen, sektor infrastruktur 2,98 persen, sektor energi 2,37 persen, sektor properti 2,22 persen, dan sektor teknologi 2,21 persen.

Sentimen negatif yang datang beruntun disinyalir menjadi pemicu utama, mulai dari pelemahan kurs rupiah, kondisi global, hingga kebijakan pembekuan pasar saham Indonesia oleh MSCI dan FTSE yang mengeluarkan beberapa emiten dari konstituennya.

Artikel terkait

Rekomendasi