IHSG Ambles 3,81 Persen Dipicu Sentimen MSCI dan FTSE Russell

IHSG Ambles 3,81 Persen Dipicu Sentimen MSCI dan FTSE Russell
Foto: Ilustrasi IHSG Ambles 3,81 Persen Dipicu Sentimen MSCI dan FTSE Russell.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah pada perdagangan Senin (18/5/2026). Pasar saham domestik tertekan sejak awal perdagangan imbas gejolak pasar global, depresiasi rupiah, rebalancing MSCI, serta kebijakan baru FTSE Russell.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 10.09 WIB menunjukkan IHSG ambles 256,37 poin atau setara 3,81 persen ke posisi 6.466,95. Pada sesi preopening, indeks saham tanah air ini sempat merosot 1,40 persen atau 94,344 poin menuju level 6.628,98, seperti dilansir dari Money.

IHSG mengawali transaksi di level 6.628,98 dan sempat menyentuh titik tertinggi pada posisi 6.631,28. Kendati demikian, tekanan jual yang masif membuat indeks saham domestik sempat meluncur ke level terendah di posisi 6.428,93.

Aktivitas perdagangan di lantai bursa terpantau cukup padat dengan volume transaksi menembus 13,61 miliar saham. Total nilai transaksi mencapai Rp 7,77 triliun yang dihasilkan melalui frekuensi perdagangan sebanyak 1,152 juta kali.

Pergerakan saham didominasi oleh koreksi massal dengan 703 saham melemah, sementara hanya 82 saham yang menguat dan 174 saham lainnya bergerak stagnan. Penurunan IHSG ini sejalan dengan rontoknya sejumlah indeks saham utama di BEI.

Indeks LQ45 tercatat melemah 3,09 persen atau 20,32 poin ke level 637,56, sedangkan Jakarta Islamic Index (JII) anjlok 4,21 persen ke posisi 419,47. Pelemahan juga melanda indeks KOMPAS100 sebesar 3,99 persen ke level 857,60.

Kondisi serupa dialami indeks ISSI yang terkoreksi 3,68 persen ke level 234,05, disusul indeks IDX30 yang menyusut 2,56 persen ke posisi 361,77. Sementara itu, indeks JII70 juga ikut terpangkas 3,94 persen menuju level 163,93.

Dampak Rebalancing MSCI dan Sentimen Kebijakan FTSE Russell

Tekanan berat yang melanda pasar saham sejak akhir pekan lalu dipicu oleh keluarnya enam emiten Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes. Penghapusan ini resmi berlaku dalam penyesuaian indeks terbaru dari Morgan Stanley Capital International.

Keenam perusahaan yang terdepak meliputi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Selain indeks utama, MSCI turut mencoret 13 saham asal Indonesia dari kelompok MSCI Global Small Cap Indexes yang berlaku efektif per 1 Juni 2026. Tekanan psikologis investor kian menebal menyusul peringatan keras dari FTSE Russell.

FTSE Russell mengumumkan bakal mengeliminasi saham-saham yang masuk kategori konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dengan nilai nol. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada pembukaan perdagangan 22 Juni 2026.

Langkah tegas tersebut diterapkan demi memproteksi integritas indeks sekaligus memitigasi risiko penurunan likuiditas saham yang menyulitkan institusi asing keluar dari portofolio terkait. Emiten seperti BREN dan DSSA yang lekat dengan isu kepemilikan jumbo kini menjadi perhatian pasar.

Lembaga indeks global tersebut juga memilih menunda proses re-ranking indeks secara menyeluruh, penambahan emiten baru, serta penaikan free float hingga peninjauan berkala pada September 2026. Situasi ini memicu kecemasan pasar terhadap potensi keluarnya dana asing secara masif.

Faktor Pelemahan Rupiah dan Risiko Geopolitik Global

Analis teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memaparkan bahwa arah pergerakan pasar saham domestik saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan lokal. Sentimen geopolitik di Timur Tengah masih dipantau karena berisiko memicu ketidakpastian keuangan global.

Pasar saham dalam negeri juga masih dibayangi oleh aksi lepas saham oleh pemodal yang memicu potensi aliran modal keluar akibat rebalancing indeks global. Di sisi lain, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS turut memengaruhi psikologis pelaku pasar keuangan.

Pelemahan kurs rupiah dinilai memicu kekhawatiran terkait stabilitas moneter dalam negeri serta kelangsungan investasi modal asing. Melalui analisis teknikalnya, Herditya memperkirakan area support IHSG berada di level 6.682 dengan posisi resistensi di level 6.789.

Artikel terkait

Rekomendasi