Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pemulihan signifikan dengan kembali menembus posisi di atas level psikologis 7.000. Berdasarkan data perdagangan pada Selasa, 5 Mei 2026, indeks berakhir di zona hijau meskipun sempat menghadapi tekanan di awal sesi.
Dilansir dari Suara, indeks saham domestik tersebut ditutup dengan penguatan sebesar 1,22 persen yang membawanya ke level 7.057,11. Pergerakan ini menunjukkan daya tahan pasar modal Indonesia di tengah volatilitas kondisi global.
Pada sesi pembukaan, laju indeks sebenarnya sempat melemah hingga menyentuh titik terendah di level 6.921. Penurunan tersebut dipicu oleh sentimen negatif dari koreksi bursa internasional serta lonjakan harga minyak mentah dunia.
Laju IHSG mulai berbalik arah menjelang penutupan perdagangan yang didominasi oleh aksi beli pada saham-saham perbankan. Selain itu, saham konglomerasi juga berperan besar sebagai penopang utama kenaikan indeks hari ini.
Sektor bahan baku atau basic materials memimpin penguatan sektoral dengan kenaikan mencapai 2,86 persen. Di sisi lain, sektor kesehatan menjadi satu-satunya kelompok saham yang mengalami koreksi paling dalam sebesar 1,52 persen.
Aktivitas pasar melibatkan perdagangan sebanyak 41,58 juta lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 23,85 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat dilakukan sebanyak 2,42 juta kali oleh para pelaku pasar.
Terdapat 360 saham yang berhasil menguat, sementara 328 saham lainnya mengalami penurunan harga. Sebanyak 271 saham tercatat stagnan atau tidak mengalami perubahan posisi dari harga sebelumnya.
Beberapa emiten yang mengisi daftar Top Gainers hari ini antara lain ENZO, ABDA, KONI, BRPT, NIKL, NEST, BOBA, dan PIPA. Sementara itu, kelompok Top Losers ditempati oleh saham FWCT, YPAS, INDS, HERO, INCO, NETV, EURO, serta URBN.
Kondisi Makroekonomi Jadi Sentimen Positif
Optimisme investor di lantai bursa mendapat dukungan kuat dari rilis data ekonomi domestik yang melampaui ekspektasi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal I 2026 dilaporkan menyentuh angka 5,61 persen secara tahunan (YoY).
Capaian tersebut menunjukkan tren akselerasi jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal IV-2025 yang berada di angka 5,39 persen. Angka ini memberikan sinyal positif mengenai stabilitas fundamental ekonomi nasional di mata para pemodal.
Dari sisi analisis teknikal, terdapat indikasi pembalikan arah atau reversal yang cukup kuat. Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, indikator Stochastic RSI saat ini mulai beranjak naik meninggalkan area jenuh jual (oversold).
Tekanan jual di pasar juga terpantau mulai mereda, terlihat dari penyempitan histogram negatif pada indikator MACD. Kondisi teknikal ini mendukung potensi berlanjutnya kenaikan indeks dalam jangka waktu pendek.
ÔÇ£Sehingga secara teknikal, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 7.100,ÔÇØ tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Kendati menunjukkan tren positif, para investor tetap dihimbau untuk tetap waspada terhadap dinamika eksternal. Pergerakan harga komoditas global dan sentimen pasar luar negeri masih berisiko memengaruhi arah gerak IHSG ke depan.