Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mengalami koreksi pada pembukaan perdagangan Selasa, 5 Mei 2026. Seperti dikutip dari Suara, indeks langsung masuk ke zona merah dengan menempati posisi 6.968 pada pagi hari.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa hingga pukul 09.07 WIB, pelemahan masih berlanjut sebesar 0,22 persen yang membawa indeks ke level 6.971. Aktivitas pasar melibatkan perdagangan 2,99 miliar saham.
Nilai transaksi yang tercatat pada periode tersebut mencapai Rp 1,12 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 201.000 kali. Kondisi pasar menunjukkan dominasi sentimen negatif di awal sesi.
Sebanyak 368 saham tercatat mengalami penurunan harga, sementara hanya 190 saham yang berhasil bergerak naik. Adapun 401 saham lainnya cenderung stagnan atau tidak mengalami perubahan posisi dari harga sebelumnya.
Di tengah tekanan indeks, terdapat sejumlah emiten yang mencatatkan kenaikan signifikan dan masuk dalam jajaran Top Gainers. Beberapa di antaranya meliputi saham ABDA, KONI, HERI, PIPA, TOOL, BMAS, dan UDNG.
Sebaliknya, barisan saham yang mengalami tekanan jual cukup tinggi atau Top Losers ditempati oleh SHIP, PRDA, YPAS, FWCT, BANK, NETV, dan RDTX. Fluktuasi ini mencerminkan dinamika pasar yang masih dibayangi ketidakpastian.
Faktor Penyebab Tekanan Indeks
Riset dari CGS International Sekuritas Indonesia mengungkapkan bahwa pergerakan IHSG saat ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Pelemahan bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street menjadi salah satu pemicu utama.
Selain faktor global, nilai tukar rupiah yang masih berada di bawah tekanan juga memberikan dampak negatif bagi pasar modal dalam negeri. Kondisi ini diperkirakan akan membuat indeks bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah.
"Melemahnya indeks di bursa Wall Street dan berlanjutnya tekanan terhadap rupiah diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu naiknya harga komoditas energi berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.875/6.780 dan resist 7.070/7.165," tulis CGS International Sekuritas dalam risetnya.
Analis melihat adanya potensi penahan koreksi dari kenaikan harga komoditas energi. Sektor ini dinilai mampu meredam pelemahan indeks agar tidak terkoreksi terlalu dalam di tengah fluktuasi pasar global.
Proyeksi dan Rekomendasi Saham
Secara teknikal, pergerakan indeks diproyeksikan berada dalam rentang support antara 6.875 hingga 6.780. Sementara itu, untuk batas resistance atau titik penguatan terdekat berada pada level 7.070 sampai 7.165.
CGS International Sekuritas juga merilis beberapa daftar saham yang layak dicermati oleh para investor. Di sektor agribisnis dan pertambangan, terdapat rekomendasi untuk saham Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), dan Bukit Asam Tbk (PTBA).
Selain sektor komoditas, saham dari sektor industri lain juga dinilai menarik untuk diperhatikan. Saham Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) serta Indosat Tbk (ISAT) masuk ke dalam daftar rekomendasi beli dalam perdagangan hari ini.