IHSG 25 Mei 2026 Diprediksi Bergerak Terbatas dalam Rentang 6.100-6.400

IHSG 25 Mei 2026 Diprediksi Bergerak Terbatas dalam Rentang 6.100-6.400
Foto: Ilustrasi IHSG 25 Mei 2026 Diprediksi Bergerak Terbatas dalam Rentang 6.100-6.400.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan bakal bergerak dalam rentang terbatas antara level 6.100 hingga 6.400 pada perdagangan Senin (25/5/2026). Pergerakan ini terjadi setelah indeks mengalami tekanan besar pada pekan sebelumnya.

Dilansir dari Investortrust, riset dari BRI Danareksa Sekuritas memaparkan bahwa pergerakan indeks hari ini akan berada pada area support 6.100 dan resistance di level 6.400. Sikap pelaku pasar terhadap kejelasan regulasi sentralisasi ekspor komoditas strategis menjadi salah satu faktor penentu.

Mekanisme serta implementasi aturan ekspor tersebut dinilai masih memicu beragam penafsiran dari berbagai pihak. Selain itu, sentimen negatif juga datang dari keputusan FTSE index yang mengeluarkan empat saham dari daftarnya, termasuk DSSA.

Namun, laju IHSG tertahan oleh sentimen positif global. Penguatan pasar saham Wall Street pada akhir pekan lalu memberikan angin segar setelah munculnya kabar potensi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

Merespons dinamika pasar modal tersebut, BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk tiga saham pilihan. Saham CPIN ditargetkan pada harga Rp 4.390-4.530, HRTA dengan target Rp 2.370-2.620, dan ESSA pada rentang Rp 740-770.

Pada transaksi pekan lalu, bursa domestik mencatatkan performa buruk dengan merosot tajam sebesar 561,27 poin atau setara 8,35% menuju level 6.162,04. IHSG bahkan sempat merosot hingga menyentuh titik terendahnya di angka 5.966.

Kejatuhan ini mengakibatkan kapitalisasi pasar (market cap) BEI menyusut hingga Rp 1.190 triliun atau berkurang 10,07%. Nilai kapitalisasi pasar tersisa menjadi Rp 11.825 triliun hanya dalam periode lima hari perdagangan.

Kemerosotan tersebut mengubah peta daftar 10 besar saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI. Posisi puncak kini dihuni oleh BBCA, yang diikuti berturut-turut oleh DCII, BBRI, BMRI, BYAN, BREN, MORA, TLKM, ASII, dan AMMN, sementara saham TPIA keluar dari jajaran elit tersebut.

Koreksi indeks sebesar 8,35% dalam sepekan ini tercatat sebagai yang paling dalam di dunia. Sebagai perbandingan, pelemahan bursa global cenderung terbatas seperti indeks Hang Seng yang turun 1,37% dan FTSE Bursa Malaysia yang melemah 1,58%.

Dampak dari penurunan drastis ini membuat posisi kapitalisasi pasar BEI melorot ke peringkat kedua di kawasan Asean, berada di bawah Singapura. Tekanan utama dipicu oleh kejatuhan performa seluruh sektor saham secara masif.

Sektor transportasi memimpin kejatuhan dengan koreksi sebesar 19,1%, diikuti sektor material dasar yang terpangkas 16,31%, dan sektor energi merosot 13,68%. Sektor industri juga turun 11,70%, sektor infrastruktur melemah 10,80%, serta sektor konsumer primer terkikis 10,20%.

Terdapat lima saham yang mengalami penurunan paling tajam sepanjang pekan lalu. Saham TPIA memimpin pelemahan sebesar 53,49%, disusul WBSA yang anjlok 50,20%, dan DSSA yang merosot hingga 47,34%.

Selanjutnya, saham CUAN tercatat tergerus sebanyak 39,41%, NSSS melemah 38,30%, serta saham BANK yang ikut terkoreksi 37,45%. Adapun jajaran saham yang menjadi penekan utama laju indeks pekan ini meliputi TPIA, DSSA, BREN, BRPT, AMMN, BRMS, dan BYAN.

Artikel terkait

Rekomendasi