Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles pada awal perdagangan Bursa Efek Indonesia. Seperti diberitakan oleh Suara, indeks saham domestik ini jatuh sebesar 0,81 persen menuju level 6.045 hingga pukul 09.06 WIB.
Sebelumnya, pergerakan indeks dibuka pada zona merah di posisi 6.065. Sebanyak 445 saham terpantau mengalami penurunan nilai akibat kekhawatiran pasar terhadap stabilitas makroekonomi serta risiko neraca pembayaran Indonesia.
Aktivitas perdagangan mencatat volume transaksi mencapai 3,38 miliar saham. Total nilai transaksi yang dibukukan sebesar Rp 1,67 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 177.400 kali.
Kondisi pasar menunjukkan dinamika yang timpang. Tercatat hanya ada 132 saham yang bergerak naik, sedangkan 382 saham lainnya stagnan atau tidak mengalami perubahan posisi.
Sejumlah saham yang berhasil menempati jajaran Top Gainers meliputi TMPO, CITY, ESIP, PPGL, dan PKPK. Sebaliknya, barisan saham yang tertekan di posisi Top Loser di antaranya RONY, LCKM, SOTS, IRSX, dan RALS.
Laju indeks diproyeksikan masih berada di bawah tekanan setelah pada hari sebelumnya merosot tajam mendekati level psikologis 6.000. BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG tetap dalam tren bearish dengan level support terdekat berada pada area psikologis 6.000.
Berdasarkan riset lembaga tersebut, IHSG pada perdagangan terakhir ditutup melemah 3,54 persen ke level 6.094. Kondisi ini diikuti oleh aksi jual bersih oleh investor asing sebesar Rp 508 miliar di pasar reguler.Koreksi pasar domestik ini terjadi di saat mayoritas bursa regional Asia justru menguat dan harga minyak dunia mengalami penurunan. Faktor global sebenarnya positif setelah ada perkembangan proposal damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, kondisi dalam negeri dibayangi kecemasan makroekonomi. Sentimen ini muncul setelah S&P Global Ratings menilai wacana pengendalian ekspor berpotensi menekan kinerja ekspor nasional, penerimaan pemerintah, dan meningkatkan risiko neraca pembayaran.
"Pasar juga merespons pernyataan S&P Global Ratings yang menilai wacana pengendalian ekspor berpotensi menekan kinerja ekspor, penerimaan pemerintah, serta meningkatkan risiko terhadap neraca pembayaran Indonesia," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.
Secara teknikal, tren pergerakan indeks masih bearish. Batas support lanjutan diperkirakan berada di level 5.900, sedangkan area resistance diproyeksikan pada kisaran 6.400.
Investor kini menanti rilis data ekonomi penting seperti Current Account Balance serta pertumbuhan jumlah uang beredar atau M2 Money Supply. Data tersebut diperkirakan menjadi penggerak arah pasar selanjutnya.
Dari pasar global, indeks utama Wall Street ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones Industrial Average naik 0,55 persen ke level 50.285,66, S&P 500 menguat 0,17 persen menjadi 7.445,72, dan Nasdaq Composite bertambah 0,087 persen ke posisi 26.293,10.
Untuk rekomendasi saham, BRI Danareksa Sekuritas menjagokan saham CPIN dan AMRT sebagai pilihan menarik untuk dicermati investor.