IHSG 18 Mei 2026 Anjlok 3,71 Persen ke Level 6.473 pada Sesi I

IHSG 18 Mei 2026 Anjlok 3,71 Persen ke Level 6.473 pada Sesi I
Foto: Ilustrasi IHSG 18 Mei 2026 Anjlok 3,71 Persen ke Level 6.473 pada Sesi I.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam pada sesi I perdagangan Senin (18/5/2026). Dilansir dari Investor Daily, IHSG melemah signifikan hingga minus 3,71% ke level 6.473 di sekitar pukul 09.44 WIB.

Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak sangat dinamis. Nilai transaksi saham tercatat sudah menembus angka lebih dari Rp 5 triliun dalam kurun waktu tersebut.

Koreksi massal melanda sebagian besar instrumen investasi di pasar modal. Terdapat 596 saham yang bergerak di zona merah, sedangkan hanya 88 saham yang menguat, dan 56 saham lainnya stagnan.

Penurunan tajam IHSG ini terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah parah. Pasar juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak dunia serta lonjakan imbal hasil obligasi AS.

Data Bloomberg pada pukul 9.02 WIB di pasar spot exchange menunjukkan mata uang rupiah ambles 51 poin atau 0,29% ke posisi Rp 17.648 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS terpantau menguat 0,06% menuju level 99,34.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi pada perdagangan Rabu (13/4/2026). Saat itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mampu ditutup menguat 53 poin di level Rp 17.475.

Faktor Global dan Sentimen Geopolitik

Berdasarkan analisis Phintraco Sekuritas, sentimen global menjadi pemicu utama yang menekan pergerakan pasar domestik. Hal ini menyusul pelemahan indeks-indeks di Wall Street pada perdagangan Jumat (15/5/2026).

Aksi ambil untung atau profit taking pada saham sektor teknologi menjadi penyebab utama koreksi di Wall Street. Selain itu, kenaikan yield obligasi pemerintah AS turut memicu kecemasan para pelaku pasar.

Respons negatif pasar juga dipicu oleh hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan kedua pemimpin negara tersebut berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan besar.

ÔÇ£Di saat yang sama, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 30 tahun melonjak hingga 5,1% di tengah kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga akibat lonjakan harga minyak mentah,ÔÇØ tambah Phintraco Sekuritas.

Harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak lebih dari 3%. Kenaikan ini terjadi karena belum adanya kesepakatan antara AS dan Iran mengenai isu geopolitik serta energi global.

Phintraco Sekuritas memproyeksikan konflik antara AS dan Iran masih akan memengaruhi laju bursa global. Pergerakan pasar pekan ini bakal sangat bergantung pada naik turunnya eskalasi ketegangan kedua negara tersebut.

Menanti Risalah FOMC dan Rapat Bank Indonesia

Para pelaku pasar kini memilih sikap waspada sembari mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes). Investor juga menunggu laporan keuangan NVIDIA untuk memproyeksikan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Langkah antisipasi ini diambil setelah data inflasi di Amerika Serikat tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada rilis data ekonomi dari China.

Investor global sedang menanti rilis data industrial production serta retail sales dari Negeri Tirai Bambu. Bank Sentral China sendiri diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga pinjaman utama tenor satu tahun di level 3% dan tenor lima tahun di level 3,5%.

Dari dalam negeri, perhatian para pemodal terfokus pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Bank sentral diproyeksikan akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada 20 Mei 2026.

ÔÇ£Investor juga menunggu data pertumbuhan kredit, transaksi berjalan kuartal I-2026, dan M2 Money Supply,ÔÇØ papar Phintraco Sekuritas.

Artikel terkait

Rekomendasi