Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan signifikan sebesar 1,81 persen hingga menyentuh level 6.734 pada penutupan sesi pertama perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Pelemahan ini setara dengan koreksi sebesar 124 poin dibandingkan posisi sebelumnya.
Laju IHSG yang terus berada di zona merah dipicu oleh kombinasi sentimen negatif global dan domestik, termasuk lonjakan inflasi di Amerika Serikat (AS). Dilansir dari Suara, riset Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan bahwa pasar regional Asia saat ini bergerak variatif merespons kondisi tersebut.
Inflasi tahunan Amerika Serikat dilaporkan melonjak menjadi 3,8 persen, melampaui angka sebelumnya yang sebesar 3,3 persen dan di atas ekspektasi pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
"Pasar menilai, inflasi AS yang lebih tinggi dan ketegangan geopolitik Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia tentunya ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama," tulis Pilarmas dalam risetnya.
Ketegangan di Timur Tengah dan antisipasi pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei mendatang turut menjadi perhatian investor. Pertemuan tersebut dijadwalkan membahas isu sensitif mengenai perdagangan dan tarif antara kedua negara.
Dari dalam negeri, tekanan jual meningkat setelah adanya rebalancing indeks MSCI Emerging Markets periode Mei 2026 yang menurunkan bobot saham Indonesia. Langkah ini memicu kekhawatiran investor terkait potensi keluarnya arus modal asing dari pasar keuangan domestik.
"Pelaku pasar merespons akan kekhawatiran keluarnya arus modal dari pasar keuangan. Sentimen ini dipicu oleh penurunan bobot indeks saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets pasca-proses rebalancing yang mendorong tekanan aksi jual," lanjut riset tersebut.
Faktor lain yang membebani pasar adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berisiko meningkatkan beban subsidi pada APBN. Di tengah tekanan ini, Pilarmas merekomendasikan saham RAJA untuk dikoleksi pada area support dan resistance 4.170ÔÇô4.710.
Data perdagangan sesi I menunjukkan volume transaksi mencapai 24,74 juta saham dengan nilai transaksi Rp 10,26 triliun. Tercatat sebanyak 411 saham mengalami penurunan harga, 280 saham menguat, dan 268 saham stagnan.
Saham-saham yang mengalami koreksi terdalam (top losers) pada sesi ini dipimpin oleh MSIN, YOII, TPIA, MORA, dan SIPD. Sebaliknya, beberapa saham yang mencetak kenaikan tertinggi (top gainers) meliputi KOPI, KONI, ELPI, SWID, dan BNBR.