Indonesian Business Council (IBC) menilai Hari Kebangkitan Nasional ke-118 pada Rabu (20/5/2026) harus dijadikan momentum refleksi untuk memperkuat fondasi perekonomian Indonesia agar lebih produktif dan berkelanjutan. Dilansir dari Investor Daily, langkah penguatan ini dinilai penting di tengah pembahasan arah pembangunan jangka panjang negara.
Optimisme terhadap prospek ekonomi nasional tersebut sejalan dengan pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 yang disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta.
"Dengan strategi ekonomi yang tepat, kebijakan fiskal yang prudent dan berkelanjutan, saya yakin ekonomi Indonesia dapat tumbuh pada kisaran 5,8% hingga 6,5% di tahun 2027, menuju pertumbuhan ekonomi 8% pada tahun 2029," ujar Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.
Pernyataan tersebut dipandang IBC sebagai pengingat bahwa ketahanan ekonomi tidak sekadar diukur dari tingginya angka. Sebelumnya, lembaga ini mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% perlu dievaluasi dari aspek kualitas serta keberlanjutannya.
CEO IBC Sofyan Djalil menjelaskan bahwa peringatan nasional ini merupakan waktu yang tepat untuk membenahi berbagai sektor strategis demi memperkokoh struktur ekonomi domestik.
"Indonesia memiliki potensi besar, tetapi pengalaman hari ini mengingatkan kita bahwa potensi tidak otomatis menjadi kemajuan. Pertumbuhan ekonomi harus ditopang oleh pelaksanaan yang konsisten, kemampuan untuk terus beradaptasi, dan arah pembangunan yang memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat," ujar Sofyan Djalil, CEO IBC.
Melalui laporan IBC Business Outlook 2026, organisasi ini merumuskan tiga prasyarat utama yang disebut 3C, yakni kepastian regulasi (certainty), peningkatan kualitas SDM dan produktivitas (capability), serta pengalokasian modal ke sektor produktif (capital). Ketiga aspek ini diwajibkan berjalan beriringan agar mampu menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah jangka panjang.
"Kebangkitan nasional hari ini bukan hanya tentang optimisme, tetapi tentang kemampuan untuk memperkuat fondasi ekonomi secara konsisten. Dengan kerja bersama dan komitmen jangka panjang, Indonesia dapat membangun ekonomi yang lebih tangguh, produktif, dan siap menghadapi masa depan," kata Sofyan Djalil, CEO IBC.