PT Hutama Karya (Persero) mengerahkan 750 pekerja menggunakan jalur udara guna mengejar target pembangunan Sekolah Rakyat Mamuju di Sulawesi Barat pada Senin, 4 Mei 2026. Langkah ini merupakan bagian dari strategi percepatan proyek strategis nasional yang kini progres fisiknya telah menyentuh angka 21,66 persen per 3 Mei 2026.
Dilansir dari Kompas, proyek pendidikan terpadu ini menempati lahan seluas 8,2 hektar dengan total luas lantai bangunan mencapai 41.000 meter persegi di Kecamatan Simboro dan Kepulauan. Perusahaan pelat merah ini membagi pengerjaan dalam beberapa zonasi untuk menjaga ritme kerja tetap optimal di lapangan.
Plt Executive Vice President Sekretaris PT Hutama Karya (Persero), Hamdani, memaparkan bahwa pengerahan tenaga kerja dilakukan secara khusus untuk menjamin keberlangsungan proyek. Mobilisasi SDM melalui moda transportasi udara dipilih sebagai solusi pemenuhan kebutuhan personil di kawasan tersebut.
"Dari sisi tenaga kerja, sebanyak 750 pekerja dimobilisasi melalui charter pesawat untuk memastikan kecukupan sumber daya manusia di lapangan tetap optimal sepanjang pelaksanaan proyek," terang Hamdani, Plt Executive Vice President (EVP) Sekretaris PT Hutama Karya (Persero).
Pihak manajemen juga mengombinasikan distribusi logistik melalui jalur laut guna mengatasi keterbatasan akses darat menuju lokasi pesisir. Material berat diangkut menggunakan kapal dan tongkang, sementara pasokan beton didukung oleh batching plant di sekitar area proyek.
Di sisi lain, pemerintah memberikan arahan tegas terkait standar pembangunan infrastruktur pendidikan tersebut. Menteri Pekerjaan Umum menekankan bahwa ketahanan fisik bangunan menjadi aspek krusial dalam pengerjaan proyek strategis ini.
"Tetap utamakan kualitas dalam pembangunannya, baik dari segi material maupun struktur bangunannya, karena bangunan sekolah ini harus bisa bertahan untuk dimanfaatkan minimal selama 20 tahun," ujar Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum (PU).
Kompleks Sekolah Rakyat Mamuju nantinya akan mencakup fasilitas lengkap untuk jenjang SD hingga SMA, termasuk asrama, perumahan guru, hingga laboratorium. Mengingat kondisi geografis Sulawesi Barat yang rawan gempa, bangunan ini dirancang menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM).