Huafei Nickel Cobalt Hentikan Produksi Smelter Akibat Harga Sulfur

Huafei Nickel Cobalt Hentikan Produksi Smelter Akibat Harga Sulfur
Foto: Ilustrasi Huafei Nickel Cobalt Hentikan Produksi Smelter Akibat Harga Sulfur.

Anak usaha Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., Huafei Nickel-Cobalt Co., Ltd., melakukan penghentian sementara sebagian lini produksinya di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) mulai Jumat, 1 Mei 2026. Langkah ini diambil perusahaan akibat kenaikan tajam harga sulfur sebagai bahan baku utama serta kebutuhan perawatan menyeluruh pada fasilitas smelter.

Keputusan tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi smelter berteknologi high pressure acid leach (HPAL) yang terus beroperasi dengan beban tinggi tanpa pemeliharaan rutin sejak awal beroperasi. Dilansir dari Ekonomi, kebijakan ini diperkirakan akan berdampak pada sekitar 50 persen dari total kapasitas produksi smelter Huafei Nickel-Cobalt selama periode pemeliharaan berlangsung.

Pihak manajemen menekankan bahwa evaluasi internal telah dilakukan sebelum menetapkan jadwal penghentian operasional tersebut demi keberlangsungan teknis fasilitas produksinya di Maluku Utara.

"Setelah melalui kajian internal, Perusahaan memutuskan bahwa mulai 1 Mei 2026 akan dilakukan penghentian sementara sebagian lini produksi Huafei Nickel-Cobalt untuk pemeliharaan," ujar manajemen Huayou dalam pengumuman di Shanghai Stock Exchange.

Meskipun operasional terganggu secara parsial, perusahaan menyatakan bahwa dampak negatif ini bersifat jangka pendek bagi kinerja operasi Huayou dan tidak akan memengaruhi prospek bisnis dalam jangka panjang. Pengurangan kapasitas ini menjadi krusial mengingat signifikansi kontribusi entitas tersebut terhadap pendapatan grup.

Berdasarkan catatan keuangan tahun 2025, Huafei Nickel-Cobalt membukukan pendapatan usaha mencapai RMB14,495 miliar atau setara dengan 17,89 persen dari total pendapatan Huayou. Perusahaan tersebut juga tercatat menyumbang laba bersih sebesar RMB1,252 miliar pada periode yang sama.

Strategi mitigasi kini tengah disusun oleh Huayou dengan memperluas sumber pasokan sulfur guna menjaga efisiensi biaya produksi dan daya saing perusahaan. Hal ini dilakukan untuk merespons lonjakan harga sulfur yang tidak terkendali sebagai dampak dari eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.

Industri nikel dalam negeri saat ini sangat bergantung pada sulfur sebagai bahan baku utama produksi baterai kendaraan listrik melalui teknologi HPAL. Kebutuhan sulfur Indonesia sendiri sekitar 75 hingga 80 persen dipasok dari Timur Tengah, di mana porsi biaya operasional sulfur kini melonjak hingga angka 30-35 persen dari yang sebelumnya hanya 25 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi