Hindari Risiko Overpay Rumah Ratusan Juta Melalui Analisis Harga Properti

Hindari Risiko Overpay Rumah Ratusan Juta Melalui Analisis Harga Properti
Foto: Ilustrasi Hindari Risiko Overpay Rumah Ratusan Juta Melalui Analisis Harga Properti.

Sektor properti nasional menghadapi tantangan berat pada awal tahun 2026 seiring dengan merosotnya angka penjualan rumah di pasar primer. Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang diterbitkan Bank Indonesia, penjualan rumah baru selama periode triwulan pertama tahun 2026 mengalami kontraksi baik secara tahunan (yoy) maupun triwulanan (qtq), seperti dikutip dari Media Indonesia.

Kemerosotan pada periode tahunan terutama dipicu oleh anjloknya penjualan rumah tipe kecil yang mencatatkan angka minus cukup dalam. Sementara itu, penurunan secara triwulanan didorong oleh lesunya serapan pasar pada rumah tipe besar.

Kondisi pasar yang melambat ini berdampak langsung pada Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang tercatat sebesar 110,60 poin, atau hanya tumbuh tipis 0,62% secara tahunan, melambat dari periode sebelumnya yang mencapai 0,83%.

Stagnasi harga ini memicu peringatan keras bagi calon pembeli mengenai risiko membayar lebih atau overpay yang bisa mencapai angka ratusan juta rupiah. Property Valuer & Advisor, Ni Luh Asti Widyahari, mengungkapkan bahwa banyak konsumen yang baru menyadari kesalahan finansial tersebut setelah transaksi terjadi dan uang muka dibayarkan.

Menurutnya, ketidaktahuan terhadap batas kewajaran harga pasar menjadi penyebab utama kerugian besar bagi pembeli rumah.

"Bayangkan seseorang membeli rumah seharga Rp4,2 miIiar. Beberapa bulan kemudian, terdapat properti dengan karakteristik serupa di kawasan yang sama dipasarkan di kisaran Rp3,6 miIiar. Artinya ada indikasi overpay hingga Rp600 juta yang membuat pembelian rumah kita dapat menjadi keputusan finansial yang buruk," ujar Ni Luh Asti Widyahari, Selasa (21/5).

Asti menjelaskan bahwa selama ini masyarakat cenderung membeli properti hanya berdasarkan intuisi, desain, atau fasilitas tanpa didukung analisis data yang akurat. Padahal, nilai properti di lokasi yang sama bisa sangat bervariasi sehingga diperlukan metode penilaian yang tepat untuk menghindari kerugian.

Ia menekankan bahwa keputusan membeli rumah merupakan salah satu langkah finansial terbesar dalam hidup yang tidak boleh diambil hanya berdasarkan asumsi.

ÔÇ£Keputusan membeli rumah adalah satu keputusan finansial terbesar dalam hidup dan untuk itu perlu banyak pertimbangan supaya keputusan yang diambil tidak salah. Tentunya kita butuh alat berupa data maupun informasi yang tepat supaya keputusan yang kita buat tepat,ÔÇØ ujar Asti.

Senada dengan temuan BI, riset Colliers Indonesia menunjukkan pertumbuhan harga rumah tipe kecil dan menengah hanya bergerak di kisaran 0,3 hingga 0,5 persen secara kuartalan. Kenaikan harga yang relatif stabil hanya ditemukan pada lokasi-lokasi strategis yang terhubung langsung dengan akses infrastruktur baru, seperti proyek jalan tol dan kereta api di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Data Pinhome Indonesia Residential Market Report Semester 2 2025 & Outlook 2026 menyatakan pasar residensial menghadapi fenomena stagnasi inventori yang cukup signifikan. Stimulus fiskal seperti PPN DTP dan potongan BPHTB dinilai belum mampu dorong penjualan rumah, karena biaya mobilitas dan akses transportasi jadi faktor utama.

Faktor deflasi juga menjadi penyebab mandeknya penjualan. Dari target DPD REI Jawa Barat pada Agustus yang diperkirakan bisa menjual 57%, ternyata hanya terealisasi sebesar 42% akibat daya beli yang tertahan.

Artikel terkait

Rekomendasi