Indonesia Hubungkan Hilirisasi Nikel dengan Filipina Demi Transisi Energi

Indonesia Hubungkan Hilirisasi Nikel dengan Filipina Demi Transisi Energi
Foto: Ilustrasi Indonesia Hubungkan Hilirisasi Nikel dengan Filipina Demi Transisi Energi.

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia mulai menghubungkan kekuatan hilirisasi nikelnya dengan cadangan bijih nikel Filipina demi mempercepat pengembangan industri terkait seperti baterai dan transisi energi domestik.

Di tengah peluang tersebut, pemerintah dinilai perlu memastikan hilirisasi tidak berhenti pada produk antara dan ketergantungan pasokan eksternal.

Kedua negara telah resmi menjalankan kerja sama pada sektor nikel di tengah rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean pada pekan lalu. Kerja sama tersebut terwujud melalui penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA).

MoU tersebut mencakup beberapa aspek. Pertama, pertukaran informasi dalam rangka stabilisasi perdagangan nikel regional dan global.

Kedua, pengembangan bersama teknologi hilirisasi nikel serta pemanfaatan nilai tambah dari produk sampingan industri pengolahan. Ketiga, pengembangan sumber daya manusia bersama untuk mendukung ekosistem industri nikel yang berkelanjutan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, kerja sama itu menjadi fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina.

"Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,ÔÇØ ujar Airlangga, dikutip Senin (11/5/2026).

Ketua Umum APNI Nanan Soekarna menambahkan, Indonesia dan Filipina dinilai memiliki posisi yang semakin strategis dalam mendukung rantai pasok global untuk industri stainless steel, kendaraan listrik, dan transisi energi bersih dunia. Hal ini mengingat posisi kedua negara yang secara kolektif menguasai sebagian besar cadangan dan produksi nikel dunia.

Nanan melanjutkan, Indonesia dan Filipina kini bukan sekadar negara produsen nikel. Menurutnya, kedua negara kini memiliki peluang besar menjadi penentu arah pasar nikel global.

"Kolaborasi ini adalah langkah strategis untuk menciptakan stabilitas supply chain, memperkuat hilirisasi, dan membangun standar ESG regional yang kredibel dan kompetitif,ÔÇØ ujar Nanan.

Terpisah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, kerja sama business to business (B2B) pada sektor nikel sangat penting untuk mengembangkan industrialisasi pada komoditas ini.

Bahlil menerangkan, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang tengah berupaya mengakselerasi industrialisasi komoditas nikel. Sementara itu, Filipina merupakan salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia meski belum memiliki industri pendukungnya.

"Kalau diakumulasikan, total cadangan [nikel] kita dan Filipina itu lebih dari 60% dari keseluruhan di dunia sehingga secara bisnis juga terbuka saja asalkan nilai ekonomisnya dipertimbangkan secara matang," kata Bahlil.

Sementara itu, Ketua Komite Tetap Kajian Hilirisasi dan Investasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi menyebut, kolaborasi ini meningkatkan posisi tawar dan sekaligus memperkuat daya tarik investasi Indonesia.

"Ini karena investor melihat stabilitas pasokan sebagai faktor utama dalam keputusan penanaman modal jangka panjang," kata Chandra.

Menurutnya, dengan kebijakan yang konsisten dan insentif yang tepat sasaran, kerja sama regional tersebut akan mampu mendorong transformasi energi nasional yang berkelanjutan dan kompetitif.

Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia memiliki 44,5% cadangan nikel dunia atau sebesar 62 juta ton. Sementara itu, Filipina memiliki sekitar 3,4% atau 4,8 juta ton.

Direktur Eksekutif Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN) Tata Mustasya mengatakan, kolaborasi kedua negara akan berdampak positif bagi upaya hilirisasi dan juga upaya transisi energi Indonesia.

Dia memaparkan, kerja sama ini berpotensi menciptakan nilai tambah ekonomi lebih besar melalui hilirisasi, tidak hanya untuk nikel yang diproduksi di Indonesia. Nilai tambah tersebut juga akan didapatkan Indonesia tanpa harus mendorong ekspansi tambang baru di dalam negeri.

Menurut Tata, kerja sama tersebut juga memperkuat integrasi ekonomi regional di kawasan Asean. Indonesia dan Filipina dinilai sama-sama akan memperoleh keuntungan dari rantai pasok industri nikel dan baterai yang semakin terhubung.

Dia menilai industri hilirisasi nikel di Indonesia, termasuk sektor baterai kendaraan listrik, memang tidak ideal jika hanya bergantung pada satu sumber bahan baku. Diversifikasi pasokan dinilai penting untuk menjaga kepastian pasokan sekaligus memenuhi kebutuhan teknis industri.

ÔÇ£Memang tidak boleh tergantung kepada satu sumber bahan baku, termasuk domestik, tetapi harus dari beberapa sumber seperti Filipina,ÔÇØ ujarnya.

Selain faktor keamanan pasokan, Tata menuturkan, karakteristik nikel yang dibutuhkan industri juga tidak selalu seragam. Dia menyebut, Filipina dinilai memiliki jenis nikel tertentu yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan industri terkait seperti baterai di Indonesia.

Dia menambahkan diversifikasi sumber bahan baku menjadi kebutuhan jika Indonesia ingin naik kelas menjadi pemain utama industri baterai global. Ketergantungan terhadap satu sumber dinilai justru dapat meningkatkan risiko industri di tengah tingginya kebutuhan bahan baku mineral kritis dunia.

Diversifikasi pasokan juga dinilai akan mempercepat upaya transisi energi RI. Menurutnya, dengan pasokan tambahan dari Filipina, Indonesia dapat menjadi produsen battery energy storage system (BESS), baterai EV, panel surya, dan lainnya.

"Demand-nya harus dibuat di dalam negeri, selain ekspor, dengan memberikan insentif bagi PLTS dan panel surya atap," ujar Tata.

Di sisi lain, Ekonom senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak mengatakan, kerja sama Indonesia dan Filipina saat ini masih lebih berorientasi pada pengamanan pasokan bahan baku bagi smelter domestik.

ÔÇ£Kerja sama saat ini masih sangat pragmatis sebagai upaya mengamankan pasokan untuk memenuhi kebutuhan nikel domestik, termasuk blending, khususnya bagi smelter HPAL yang kekurangan bahan baku untuk kebutuhan operasional,ÔÇØ ujarnya.

Menurut Ishak, potensi kerja sama kedua negara sebenarnya jauh lebih besar karena posisi produksi mereka yang dominan di pasar global.

Namun, dia menilai struktur hilirisasi Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar. Mayoritas nikel nasional hingga kini masih digunakan untuk industri stainless steel, bukan untuk baterai kendaraan listrik.

Di sisi lain, tren global industri baterai mulai bergeser ke teknologi lithium ferro phosphate atau LFP yang tidak menggunakan nikel sebagai komponen utama.

Ishak menambahkan kapasitas hilir Indonesia juga masih didominasi produk antara seperti mixed hydroxide precipitate (MHP), prekursor, dan katoda, serta belum berkembang hingga produksi sel baterai secara penuh.

Di tengah kondisi tersebut, ketergantungan terhadap pasokan nikel Filipina dinilai dapat menjadi risiko baru bagi industri hilir nasional.

Ishak mengingatkan perubahan kebijakan ekspor di Filipina akan langsung memengaruhi keberlangsungan industri pengolahan di Indonesia.

Ishak menyebut, pemerintah perlu menata ulang arah hilirisasi nasional agar tidak semata berorientasi pada percepatan investasi, melainkan juga mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya mineral dan dampak sosial di daerah penghasil nikel.

Selain moratorium smelter, peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara juga dinilai perlu diperkuat dalam sektor pertambangan dan hilirisasi.

"Keterlibatan Danantara perlu diikuti oleh kewajiban alih teknologi dari investor asing kepada Indonesia agar hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas produksi semata," katanya.

Produksi dan Cadangan Nikel Dunia

| Negara | Produksi 2024 | Produksi 2025 (estimasi) | Cadangan | Porsi Cadangan Global |

| --------------- | ------------- | ------------------------ | ------------- | --------------------- |

| Amerika Serikat | 7.490 ton | 10.000 ton | 340.000 ton | 0,2% |

| Australia | 98.000 ton | 45.000 ton | 25 juta ton | 17,9% |

| Brasil | 67.500 ton | 70.000 ton | 16 juta ton | 11,4% |

| Kanada | 125.000 ton | 140.000 ton | 2,2 juta ton | 1,6% |

| China | 115.000 ton | 120.000 ton | 4,4 juta ton | 3,1% |

| Indonesia | 2,31 juta ton | 2,6 juta ton | 62 juta ton | 44,3% |

| Kaledonia Baru | 116.000 ton | 140.000 ton | 7,1 juta ton | 5,1% |

| Filipina | 354.000 ton | 270.000 ton | 4,8 juta ton | 3,4% |

| Rusia | 205.000 ton | 200.000 ton | 8,3 juta ton | 5,9% |

| Negara lain | 308.000 ton | 290.000 ton | >9,1 juta ton | >6,5% |

| Total dunia | 3,71 juta ton | 3,9 juta ton | >140 juta ton | 100% |

Sumber: United States Geological Survey (USGS) 2026, diolah.

Ekspor Nikel

Kinerja ekspor nikel Indonesia sepanjang 2025 hingga awal 2026 menunjukkan tren fluktuatif. Volume relatif stabil, tetapi nilai ekspor melonjak tajam di akhir tahun sebelum kembali turun.

Data Volume dan Nilai Ekspor Nikel Indonesia

| Periode | Volume Ekspor (Ribu Ton) | Nilai Ekspor (US$ Juta) | Perubahan Nilai MoM |

| -------- | ------------------------ | ----------------------- | ------------------- |

| Jan 2025 | 199,27 | 731,43 | - |

| Feb 2025 | 146,50 | 539,91 | -26,2% |

| Mar 2025 | 218,68 | 756,93 | 40,2% |

| Apr 2025 | 157,73 | 595,85 | -21,3% |

| Mei 2025 | 209,61 | 741,43 | 24,4% |

| Jun 2025 | 182,66 | 665,31 | -10,3% |

| Jul 2025 | 194,92 | 798,80 | 20,1% |

| Agt 2025 | 221,48 | 889,12 | 11,3% |

| Sep 2025 | 220,09 | 863,59 | -2,9% |

| Okt 2025 | 192,29 | 891,26 | 3,2% |

| Nov 2025 | 208,52 | 982,52 | 10,2% |

| Des 2025 | 243,54 | 1.275,99 | 29,9% |

| Jan 2026 | 195,29 | 1.038,89 | -18,6% |

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), Data Indonesia, diolah

Artikel terkait

Rekomendasi