Hilirisasi Ikan Tuna Indonesia Berpotensi Bernilai 9 Miliar Dollar AS

Hilirisasi Ikan Tuna Indonesia Berpotensi Bernilai 9 Miliar Dollar AS
Foto: Ilustrasi Hilirisasi Ikan Tuna Indonesia Berpotensi Bernilai 9 Miliar Dollar AS.

Indonesia Tuna Consortium memproyeksikan industri kolagen berbasis ikan tuna akan mencapai nilai ekonomi lebih dari 9 miliar dollar AS pada 2030 di Jakarta, Sabtu (2/5/2026). Potensi besar ini bersumber dari optimalisasi bagian non-primer seperti kulit, tulang, dan sisik yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal dalam rantai produksi konvensional.

Lead Indonesia Tuna Consortium, Thilma Komaling, menjelaskan bahwa pasar global untuk produk turunan tuna terus mengalami pertumbuhan signifikan. Dilansir dari Money, transformasi model bisnis menjadi faktor krusial untuk mengonversi limbah perikanan menjadi komoditas bernilai tinggi tanpa harus menambah beban penangkapan di laut.

ÔÇ£Sebagai contoh, kolagen dari kulit ikan tuna memiliki nilai pasar global yang terus tumbuh dengan industri kolagen diproyeksikan mencapai lebih dari 9 miliar pada tahun 2030,ÔÇØ kata Thilma Komaling, Indonesia Tuna Consortium Lead.

Thilma menilai efisiensi produksi saat ini masih rendah karena separuh dari bagian tubuh ikan belum tergarap dengan baik. Pemanfaatan sisa produksi ini dianggap sebagai solusi ekonomi yang berkelanjutan bagi sektor kelautan Indonesia.

ÔÇ£Saat ini diperkirakan 40ÔÇô50 persen bagian tuna tidak dimanfaatkan secara optimal dalam rantai produksi konvensional,ÔÇØ jelas Thilma Komaling, Indonesia Tuna Consortium Lead.

Integrasi industri hilir menjadi fokus utama karena bagian-bagian yang dianggap limbah tersebut justru mengandung nilai jual yang kompetitif di pasar internasional.

ÔÇ£Padahal, bagian kulit, tulang, dan sisik memiliki nilai ekonomi yang tinggi,ÔÇØ ujar Thilma Komaling, Indonesia Tuna Consortium Lead.

Pergeseran paradigma dalam pengelolaan stok ikan sangat diperlukan guna menghadapi tantangan global. Pendekatan pemanfaatan menyeluruh dipandang mampu meningkatkan pendapatan negara dari satu ekor komoditas secara berlipat ganda.

ÔÇ£Kita harus alih model berbisnis berbasis nilai maksimal perikanan. Di sinilah pentingnya pendekatan 100 persen pemanfaatan atau 100 persen utilization,ÔÇØ kata Thilma Komaling, Indonesia Tuna Consortium Lead.

Produk yang dihasilkan tidak terbatas pada konsumsi pangan, melainkan merambah ke sektor industri kesehatan dan kecantikan. Variasi produk turunan ini diklaim memiliki margin keuntungan yang lebih tebal dibandingkan penjualan ikan segar.

ÔÇ£Produk turunan seperti gelatin, biopeptida, dan bahan-bahan farmasi memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan produk segar,ÔÇØ tambah Thilma Komaling, Indonesia Tuna Consortium Lead.

Selain peningkatan margin, strategi ini menjaga kelestarian ekosistem laut. Inovasi teknologi memungkinkan industri mendapatkan keuntungan ekonomi tanpa memberikan tekanan tambahan terhadap stok ikan di alam.

ÔÇ£Artinya, dari satu ekor tuna, kita bisa mendapatkan nilai ekonomi berlipat tanpa harus meningkatkan tekanan terhadap stok. Transformasi itu memungkinkan dan harus dilakukan,ÔÇØ tegas Thilma Komaling, Indonesia Tuna Consortium Lead.

Kendala lain yang dihadapi adalah fenomena lulusan sektor kelautan yang tidak terserap optimal di bidangnya. Banyak talenta profesional yang akhirnya berpindah profesi, sehingga menciptakan kekosongan keahlian dalam pengembangan industri hulu ke hilir.

ÔÇ£Banyak lulusan akhirnya bekerja di luar bidangnya. Ini adalah kehilangan besar,ÔÇØ ujar Thilma Komaling, Indonesia Tuna Consortium Lead.

Kebutuhan tenaga ahli mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari pengolah data ilmiah hingga negosiator internasional. Kehadiran pakar sangat mendesak untuk memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perundingan regulasi perikanan dunia.

ÔÇ£Kita membutuhkan ilmuwan untuk memperkuat basis data stok ikan, teknologi untuk mengembangkan industri hilir, hingga expert untuk memperjuangkan kepentingan Indonesia di forum internasional,ÔÇØ jelas Thilma Komaling, Indonesia Tuna Consortium Lead.

Tanpa peran aktif dalam kebijakan global, Indonesia berisiko hanya menjadi pengikut harga pasar tanpa kemampuan menentukan aturan main. Hal ini menjadi tantangan serius mengingat posisi geografis Indonesia yang sangat strategis.

ÔÇ£Jika kita tidak aktif, maka kita hanya akan menjadi price taker, bukan rule maker,ÔÇØ kata Thilma Komaling, Indonesia Tuna Consortium Lead.

Thilma juga menekankan perlunya modernisasi melalui teknologi kecerdasan buatan dan bioteknologi. Langkah ini bertujuan untuk mengatasi stagnasi ekonomi dan minimnya inovasi terintegrasi yang saat ini masih terjadi di sektor maritim.

ÔÇ£Ini artinya kita membutuhkan pendekatan baru, mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan dengan data oseanografi dan biologi untuk prediksi stok, bioteknologi untuk mengolah limbah menjadi produk bernilai tinggi, hingga strategi pemasaran global untuk meningkatkan posisi tawar Indonesia,ÔÇØ pungkas Thilma Komaling, Indonesia Tuna Consortium Lead.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan ekspor tuna Indonesia tumbuh 7,46 persen pada periode 2021ÔÇô2025. Pada 2025, total nilai ekspor mencapai 1.038 miliar dollar AS dengan pasar utama Amerika Serikat (19,59%), Thailand (16,38%), dan Jepang (15,58%).

Artikel terkait

Rekomendasi