PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) resmi bertransformasi menjadi perusahaan holding investasi setelah merampungkan akuisisi 45 persen saham perusahaan tambang batubara PT Trimata Coal Perkasa (TCP) senilai 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,6 triliun pada hari Selasa.
Langkah strategis dari sektor interior ke energi ini diambil untuk mengamankan neraca keuangan perusahaan dari sifat siklis bisnis kontraktor interior dan manufaktur furnitur. Langkah ekspansi korporasi tersebut dilansir dari Investortrust.
Melalui akuisisi ini, MEJA mendapatkan akses ke konsesi lahan seluas 11.640 hektare di Sumatera Selatan yang memiliki perkiraan sumber daya sebesar 800 juta ton batubara. Meskipun merambah sektor energi yang menghasilkan imbal hasil tinggi, MEJA tetap mempertahankan bisnis lamanya di bidang kontraktor interior, manufaktur furnitur, dan konsultasi desain.
PT Triple Berkah Perkasa selaku pemegang saham pengendali MEJA tetap memegang kendali setelah penawaran tender wajib dengan harga Rp66 per saham menghasilkan nol divestasi saham publik. Manajemen menggunakan model pertukaran saham (equity swap) untuk merampungkan transaksi ini, di mana MEJA akan menerbitkan saham baru melalui rights issue kepada pemegang saham TCP sebagai pembayaran.
Direktur Utama MEJA, Richie Adrian Hartanto S, memberikan penjelasan mengenai arah bisnis perusahaan pasca-akuisisi dalam sebuah konferensi pers di Jakarta pada hari Senin.
"MEJA is already halfway through the collaboration with TCP," kata Richie Adrian Hartanto S, President Director of MEJA.
Menurut Richie Adrian Hartanto S, lini bisnis lama perusahaan tidak akan dibubarkan melainkan ditambah dengan segmen bisnis batubara baru. Lokasi proyek TCP yang berada di dekat sungai berair dalam diproyeksikan menjadi pusat distribusi batubara, sementara manajemen juga mengincar program hilirisasi termasuk gasifikasi dan produksi amonia untuk industri pupuk.