Sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia mengalami koreksi harga di tengah dinamika pasar global. Dilansir dari Keuangan, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat penurunan sebesar 1,02 persen ke level Rp 3.870 per lembar saham.
Kondisi serupa terjadi pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mengalami pelemahan tipis sebesar 0,41 persen sehingga berada di posisi Rp 6.100. Meski terjadi tekanan harga, pola aliran dana investor asing terpantau masih sangat beragam di sektor ini.
Data perdagangan menunjukkan BBNI masih mampu membukukan aksi beli bersih atau net buy asing senilai Rp 4,11 miliar pada hari terakhir. Dalam kurun waktu sepekan, akumulasi beli asing pada saham ini bahkan mencapai angka Rp 44,59 miliar.
Fenomena berbeda terlihat pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang justru mencatat aksi jual bersih atau net sell asing sebesar Rp 273,5 miliar. Namun, secara mingguan, BBRI sebenarnya masih mencatatkan net buy sebesar Rp 120,8 miliar.
Tekanan jual yang lebih signifikan menimpa PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan catatan net sell asing mencapai Rp 139,7 miliar dalam sehari. Jika diakumulasikan dalam satu pekan terakhir, angka pelepasan aset oleh investor asing pada BMRI menembus Rp 1,41 triliun.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, memberikan penjelasan mengenai situasi ini. Ia menyebutkan bahwa tekanan pada saham perbankan kelas kakap berkaitan erat dengan efek tidak langsung dari rebalancing indeks MSCI.
"Kondisi ini mendorong investor asing menurunkan eksposur secara keseluruhan, termasuk di saham perbankan besar," kata Harry, Jumat (15/5/2026).
Meskipun saham bank utama tidak dikeluarkan dari indeks, keputusan MSCI mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari sektor energi dan material telah menurunkan bobot Indonesia secara kolektif. Selain itu, nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.500 per dolar AS turut memperberat sentimen pasar.
Di sisi lain, analis KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai bahwa fundamental perbankan besar tetap kokoh. Ia memproyeksikan adanya perbaikan kinerja pada kuartal II-2026 yang didukung oleh stabilisasi kualitas aset dan potensi pertumbuhan kredit di semester kedua.
"Valuasi saat ini juga sudah cukup menarik untuk akumulasi bertahap," ujarnya.
Wafi menambahkan bahwa BBRI berpotensi terdorong oleh pemulihan sektor UMKM, sementara BMRI memiliki pendapatan stabil, dan BBNI menawarkan daya tarik dari sisi harga saham yang masih murah. Senada dengan hal tersebut, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai saham big banks tetap memiliki daya tarik tinggi.
Nafan mengingatkan bahwa volatilitas jangka pendek kemungkinan masih akan berlanjut pasca pengumuman MSCI sebelum akhirnya stabil di akhir Mei. Ia juga merilis proyeksi target harga saham untuk BBCA di level Rp 8.350, BBRI di Rp 3.670, BBNI di Rp 4.520, dan BMRI di angka Rp 5.650.