Fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) diesel non subsidi mulai berdampak pada stabilitas harga mobil bekas bermesin diesel di Jakarta. Penjual pribadi kini cenderung lebih fleksibel menurunkan harga jual dibandingkan pedagang di showroom yang masih memilih untuk menahan harga unit mereka.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan dinamika yang berbeda antara pedagang besar dan pemilik individu. Dilansir dari Otomotif, ketersediaan stok yang terbatas menjadi alasan utama para pengelola showroom belum melakukan koreksi harga secara masif di pasar mobil bekas saat ini.
Rama dari showroom Rama Dagang Mobil menjelaskan bahwa penurunan harga di tingkat pedagang sejauh ini memang belum terlihat signifikan. Pergerakan harga justru lebih banyak ditemukan pada transaksi antar pengguna atau penjual perorangan yang membutuhkan likuiditas cepat.
"Kalau penjualnya pribadi, biasanya mereka mungkin menurunkan harga sedikit," kata Rama.
Fleksibilitas harga tersebut bergantung sepenuhnya pada urgensi pemilik untuk segera menjual kendaraannya. Jika tidak dalam kondisi mendesak, para pemilik cenderung mempertahankan harga lama meskipun operasional kendaraan meningkat akibat harga bahan bakar.
"Tapi itu pun sifatnya opsional, kalau memang ingin segera dilepas harganya turun, kalau tidak ya tetap ditahan," katanya.
Minat pasar terhadap mobil diesel tetap terjaga karena faktor efisiensi mesin yang andal untuk keperluan operasional maupun perjalanan luar kota. Namun, calon pembeli kini bersikap lebih selektif dalam memilih unit, terutama untuk varian mesin modern yang sensitif terhadap kualitas bahan bakar.
Penyesuaian strategi harga juga dikonfirmasi oleh pelaku usaha showroom lainnya di tengah situasi ekonomi saat ini. Penurunan nilai jual biasanya diterapkan pada unit-unit yang memerlukan perbaikan teknis atau memiliki kondisi fisik di bawah standar pasar.
Andi Supriadi, pemilik Jordy Mobil, mengakui adanya langkah penyesuaian harga di bisnisnya untuk mengikuti pergerakan permintaan pasar. Ia menyebutkan besaran angka koreksi tersebut bervariasi tergantung pada kualitas setiap unit yang tersedia di lokasi penjualannya.
Ia mengatakan, koreksi harga rata-rata bisa mencapai sekitar 10 persen, terutama untuk unit dengan kondisi kurang prima dibanding unit lain di kelas serupa.