Fluktuasi melanda pasar keuangan global seiring berkembangnya spekulasi terkait masa depan konflik di Timur Tengah. Dilansir dari Internasional, harga minyak dunia mencatatkan penurunan, sementara pergerakan saham-saham di Amerika Serikat (AS) berakhir bervariasi pada Kamis (21/5/2026).
Kondisi ini dipicu oleh pertimbangan para investor mengenai potensi kemajuan dalam negosiasi antara pihak Amerika Serikat dan Iran untuk menyudahi konflik bersenjata mereka. Meski demikian, dinamika sempat terjadi di awal sesi perdagangan.
Harga minyak sempat merangkak naik dan indeks saham utama Wall Street melemah setelah munculnya laporan mengenai kebijakan internal Iran. Pemimpin tertinggi Iran dilaporkan mengeluarkan instruksi agar pasokan uranium yang hampir mencapai tingkat senjata tidak dikirim ke luar negeri.
Sikap tegas tersebut dinilai bertolak belakang dengan poin tuntutan utama yang diajukan oleh pihak Amerika Serikat. Perintah dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei ini berpotensi mempersulit proses negosiasi damai.
Perang Iran sendiri telah berlangsung sejak 28 Februari dan menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga energi global selama ini. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memberikan jaminan kepada Israel bahwa stok uranium pengayaan tinggi milik Iran harus dihapus dalam kesepakatan damai.
Berdasarkan data pasar keuangan, harga minyak mentah AS mengalami penurunan sebesar US$ 1,91 dan bertengger di level US$ 96,35 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent melemah sebesar US$ 2,44 ke posisi US$ 102,58 per barel.
"Harga minyak turun dan berada di bawah US$ 100, dan itu hal yang baik," kata Adam Sarhan, CEO 50 Park Investments di New York.
Meskipun harga komoditas energi melemah, Adam Sarhan menyebutkan bahwa para pelaku pasar masih menyimpan optimisme terhadap prospek bursa saham. Di sektor teknologi, pergerakan saham Nvidia selaku perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia menjadi pusat perhatian setelah sempat terkoreksi 1,4%.
Sebelumnya, Nvidia mengumumkan pencapaian laba bersih yang melampaui estimasi Wall Street sekaligus merilis program pembelian kembali saham korporasi senilai US$ 80 miliar. Selain pasar AS, perhatian global juga tertuju pada gejolak di Turki.
Aktivitas perdagangan saham di bursa Turki sempat dihentikan sementara akibat aksi jual massal yang memicu penurunan tajam, dibarengi dengan melemahnya nilai obligasi pemerintah. Situasi ini terjadi setelah pengadilan tertinggi negara tersebut membatalkan hasil kongres Partai Rakyat Republik tahun 2023 yang menunjuk Ozgur Ozel sebagai ketua umum.
Dampak dari ketidakpastian politik ini membuat produk ETF iShares MSCI Turkey yang diperdagangkan di pasar saham AS merosot hingga 9%. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun merangkak naik 0,6 basis poin ke level 4,576% dari posisi sebelumnya 4,57%.
Pada penutupan perdagangan Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average naik 270,24 poin atau 0,54% ke level 50.279,59. Indeks S&P 500 menguat tipis 7,70 poin atau 0,10% ke posisi 7.440,67, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 6,15 poin atau 0,02% ke angka 26.264,21.
"Jika melihat kondisi ekonomi normal di sekitar pasar ini, seharusnya saham bergerak lebih rendah. Namun jika Anda percaya perang akan segera berakhir dan harga energi saat ini hanya sementara berada di level tinggi, maka investor mulai melihat bukan hanya laba perusahaan yang solid, tetapi juga potensi keuntungan dari AI," kata Rick Meckler, mitra di Cherry Lane Investments.
Sentimen sektor teknologi juga diperkuat oleh SpaceX yang merilis dokumen persiapan pencatatan saham perdana (IPO). Dokumen tersebut memberikan gambaran perdana bagi pasar mengenai besaran investasi yang dialokasikan Elon Musk untuk pengembangan kecerdasan buatan dalam bisnis roketnya.
Secara umum, indeks saham global MSCI mengalami kenaikan sebesar 5,26 poin atau 0,48% ke posisi 1.106,91, didukung penguatan tipis indeks STOXX 600 Eropa sebesar 0,04%. Di pasar valuta asing, indeks dolar AS menguat 0,26% ke level 99,39, membuat euro tertekan 0,3% ke posisi US$ 1,1592.
Mata uang AS juga tercatat menguat 0,18% terhadap yen Jepang ke level 159,19. Di sisi lain, harga emas di pasar spot mengalami penurunan sebesar 0,17% dan diperdagangkan pada level US$ 4.535,68 per ons.
Dinamika yang terjadi pada berbagai instrumen investasi global ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen geopolitik dan laporan kinerja korporasi besar.
| Faktor Penggerak Pasar | Dampak |
|---|---|
| Harapan negosiasi Iran-AS | Menekan harga minyak |
| Sikap keras Iran soal uranium | Membatasi optimisme pasar |
| Laba Nvidia di atas ekspektasi | Menopang sentimen AI |
| Ketidakpastian politik Turki | Menekan pasar Turki |
| Prospek berakhirnya perang | Mendukung penguatan saham global |