Harga Minyak Dunia Tembus US$ 126 Akibat Penutupan Selat Hormuz

Harga Minyak Dunia Tembus US$ 126 Akibat Penutupan Selat Hormuz
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Tembus US$ 126 Akibat Penutupan Selat Hormuz.

Harga minyak mentah dunia melampaui angka US$ 126 per barel pada perdagangan Kamis, 30 April 2026, menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Lonjakan signifikan ini tercatat sebagai level harga minyak tertinggi dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

Lonjakan harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan global sempat menyentuh US$ 126,41 per barel sebelum terkoreksi ke posisi US$ 115,8 per barel seiring menipisnya volume perdagangan. Data yang dilansir dari Detik Finance menunjukkan kenaikan drastis dibandingkan harga sebelum perang yang berada pada kisaran US$ 73 per barel.

Nilai komoditas ini kini terhitung hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan pada awal tahun 2026, tepat sebelum ketegangan geopolitik meningkat. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan di Amerika Serikat mengalami penurunan tipis 0,7 persen ke level US$ 106 per barel.

Kenaikan harga minyak mentah berdampak langsung pada biaya hidup di Amerika Serikat dengan rata-rata harga bensin mencapai US$ 4,30 atau sekitar Rp 19.687 per liter. Kondisi ini juga memicu kenaikan harga pada berbagai produk turunan minyak bumi seperti plastik, karet sintetis, tekstil, hingga komoditas pangan.

Kelangkaan mulai terjadi di pasar global karena keterbatasan pasokan energi menghambat produksi barang konsumsi seperti kosmetik, mi instan, dan sarung tangan medis. Wilayah Asia menjadi area yang paling terdampak karena ketergantungan besar pada impor energi untuk menyokong pusat manufaktur dunia.

Sejumlah ekonom memberikan peringatan bahwa gangguan pasokan yang berlanjut hingga semester kedua tahun 2026 berpotensi memicu resesi global. Inflasi yang tidak terkendali dan penurunan daya beli konsumen menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi banyak negara yang saat ini mulai menderita kekurangan bahan bakar.

Analis pasar energi memberikan pandangan mengenai ketidakpastian situasi di jalur pelayaran strategis tersebut yang menjadi kunci pergerakan harga ke depan.

"Harga minyak tidak punya pilihan selain naik sampai pembukaan kembali selat secara permanen terwujud. Saat ini, bagaimana dan kapan itu akan terjadi masih menjadi tebak-tebakan siapa pun," kata Vandana Hari, pendiri perusahaan analisis pasar energi Vanda Insights.

Situasi pasar global saat ini sangat bergantung pada perkembangan diplomasi dan keamanan di kawasan Timur Tengah untuk menstabilkan kembali rantai pasok energi dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi