Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) bergerak bervariasi pada penutupan perdagangan Rabu (20/5/2026). Pergerakan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap langkah Indonesia yang berencana membentuk badan khusus untuk mengelola ekspor komoditas strategis.
Dikutip dari Investor Daily, data penutupan BMD menunjukkan kontrak berjangka CPO untuk Juni 2026 mengalami penurunan sebesar 25 Ringgit Malaysia menjadi 4.515 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Juli 2026 juga melemah 15 Ringgit Malaysia menjadi 4.556 Ringgit Malaysia per ton.
Pelemahan berlanjut pada kontrak berjangka CPO Agustus 2026 yang terkoreksi 2 Ringgit Malaysia menjadi 4.583 Ringgit Malaysia per ton. Sebaliknya, kontrak berjangka CPO September 2026 justru meningkat 12 Ringgit Malaysia menjadi 4.601 Ringgit Malaysia per ton.
Kenaikan lebih tinggi terjadi pada kontrak berjangka CPO Oktober 2026 yang melesat 23 Ringgit Malaysia menjadi 4.619 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak berjangka CPO November 2026 terkerek 29 Ringgit Malaysia menjadi 4.638 Ringgit Malaysia per ton.
Berdasarkan data Tradingview, pelaku pasar saat ini tengah mencermati kebijakan Presiden Prabowo Subianto terkait rencana pembentukan entitas negara. Badan tersebut nantinya akan mengelola ekspor sumber daya alam strategis seperti CPO, batu bara, dan ferroalloy.
Direktur broker Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, menilai langkah Pemerintah Indonesia ini berpotensi memberikan dukungan bagi pasar CPO. Kebijakan tersebut diperkirakan dapat membatasi aksi jual yang agresif dari para eksportir.
Menurut Paramalingam Supramaniam, situasi ini membuat para pembeli global cenderung mengalihkan perhatian mereka ke Malaysia. Hal tersebut dilakukan sembari menunggu kejelasan mengenai regulasi ekspor baru yang akan diterapkan oleh pihak Indonesia.
ÔÇ£Perhatian pembeli mungkin akan beralih ke Malaysia sampai ada kejelasan mengenai mekanisme yang diterapkan Indonesia,ÔÇØ ujarnya.
Di sisi lain, laju kenaikan harga CPO terhambat oleh melemahnya data ekspor dari Malaysia. Estimasi dari surveyor kargo menunjukkan pengiriman produk minyak sawit Malaysia periode 1-20 Mei merosot antara 13,9% hingga 20,5% dibandingkan bulan sebelumnya.
Sentimen positif sebenarnya sempat datang dari pasar minyak nabati dunia. Kontrak minyak kedelai yang paling aktif di Dalian menguat 1,31%, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama naik 1,44%. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai juga terangkat 0,24%. Namun, penurunan harga minyak mentah dunia membatasi penguatan CPO karena membuat komoditas ini kurang ekonomis sebagai bahan baku biodiesel.
Faktor lain yang menahan harga CPO adalah penguatan mata uang ringgit Malaysia sebesar 0,18% terhadap dolar AS, yang membuat harga komoditas ini menjadi lebih mahal bagi pembeli internasional. Di tengah dinamika pasar tersebut, produsen sawit Malaysia dilaporkan mulai membatasi aktivitas penanaman ulang akibat tingginya biaya pupuk dan bahan bakar.